Bute Puru


Cerita Rakyat dari Musi Rawas

Anak-anak di Babat (tahun 1931) Suku Tengah Lakitan Ulu Terawas, Musi Rawas. ( Sumber : Tropen Museum)


Cerita ini berasal dari dari Batu Kuning Lakitan Ulu Terawas, kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan. Konon menurut legenda ada kerajaan lama bernama kerajaan Sriwijaya yang di pimpin oleh seorang raja arif bijaksana. Sang raja memiliki tujuh orang putra. Yang paling bungsu diberi nama Bute Puru. Bute artinya buta, Puru artinya koreng atau kurap. Oleh sebab itulah si bungsu diberi nama Bute Puru. Bute Puru merupakan anak yang cerdas, berbudi pekerti luhur. Lain sekali dengan keenam saudaranya. Semuanya berhati culas, jahat, dan kejam.

                Suatu hari, sang raja memanggil ketujuh putranya. Sang raja menyampaikan bahwa dirinya sudah tua. Sudah sepantasnya dia digantikan oleh salah satu putranya.

                “Anak-anakku…ayah  sudah tua nak, sudah waktunya ayah harus istirahat ayah ingin salah satu kalian menggantikan ayah”

“Aku ayah! Aku! Akulah yang pantas menggantikan ayah” Jawab putra-putranya serentak. Hanya Bute Puru yang merunduk tak bergeming.

                “Bagaimana denganmu bungsu, apakah kau tidak ingin menjadi raja?”

“Ayahanda raja, bukankah kita punya tata cara aturan pemilihan raja? Hanya ayahanda yang tahu di antara kami siapa yang pantas menjadi raja untuk menggantikan ayahanda?” jawab Bute Puru hormat.  Sang raja tersenyum bahagia. Dalam hati ia memuji  Bute Puru. Kemudian raja membacakan kriteria menjadi raja. Salah satu syaratnya cerdas,  mempunyai kharisma dan berhati mulia. Hal itu hanya dimiliki oleh bungsu. Kharisma seorang pemimpin ada pada putra bungsunya.

 “Baik, berikan ayah waktu untuk memilih siapa yang pantas menjadi raja menggantikan aku “  Kata Raja.

Raja mulai berpikir keras. Hanya si bungsu yang pantas menjadi pemimpin dan mempunyai kriteria sesuai dengan aturan adat mereka. Tapi raja ragu, bagaimana mungkin negeri besar ini akan dipimpin oleh seorang yang buta dan penuh koreng pula?. Tapi apa jadinya jika negeri yang besar ini dipimpin oleh raja-raja culas, serakah seperti keenam putranya?

 Suatu hari, baginda raja pergi keluar kota untuk menghadiri perhelatan negara tetangga. Keenam putranya berembuk untuk menyingkirkan Bute Puru. Sebab mereka tahu, ayahanda pasti akan meilih Bute Puru untuk menjadi raja.

“Kita harus singkirkan Bute Puru dari bumi ini. Aku muak melihatnya. Buta! Puruan lagi! Chih!!”  Kata Sulung.

“Betul Kanda! Kita lenyapkan saya Bute tu, aku juga tak suka dengannya!” Kata yang nomor tiga pula.

“Tapi  mau kita singkirkan kemana? Dia itu kan adik kita juga kanda sulung?” Kata yang nomor enam.

“Aaa…mau kau bela pula bute puruan tu?” Kata nomor empat sambil meninju kepala nomor enam.

“Entahlah seperti orang yang mulia saja engkau” tambah nomor lima.

Akhirnya suatu malam Bute Puru mereka paksa keluar istana, dan dilemparkanlah Bute Puru ke dalam sungai yang deras. Berikut buku aturan undang-undang kerajaan mereka.

“Kak…apa salahku kak? Aku tidak pernah mengharap jadi raja” kata Bute Puru memelas.

“Ah..!! kami tahu ayahanda pasti akan memilih engkau Bute!! Kami tidak mau punya raja yang bute, puruan seperti kau! Ayahanda raja memang tidak punya mata. Kamilah sepantasnya menjadi raja. Tidak buta, dan tidak puruan!”

“Tapi….tapi…kak…aaauuuu”

“Byuuur!!!” Bute puru dilempar ke dalam sungai dan terbawa arus deras. Dengan susah paya Bute Puru berusaha mencari pegangan. Akhirnya ada sebilah bambu yang tersangkut di  akar. Bute Puru berpegangan kuat-kuat dan berusaha naik ke darat. Dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan, Bute Puru mencari tempat berteduh. Berteduhlah Bute Puru di bawah pohon yang besar.

Bute Puru tidak tahu kalau hari telah malam. Dan malam itu malam bulan purnama. Kebetulan pada malam itu lima dewa turun ke bumi untuk mengadakan sidang tentang kelanjutan kerajaan Sriwijaya. Dipilihnyalah kayu besar persis tempat Bute Puru berteduh. Sehingga pembicaraan mereka di dengar oleh Bute Puru.

“Kerajaan Sriwijaya itu akan tentram apabila dipimpin oleh Bute Puru. Bute Puru akan sembuh apabila mandi di air telaga dewa. Dia tidak akan buta dan puruan lagi” Kata salah satu dewa. Akhirnya, keesokannya berjalanlah Bute Puru berusaha mencari telaga dewa. Dia tidak tahu harus pergi ke arah mana. Tiba-tiba…”Byuur!!” Bute Puru terpeosok dan masuk dalam air. Ajaib!! Kulitnya yang korengan menjadi bersih bercahaya, dan matanya yang buta dapat melihat. Dengan penuh sukur Bute Puru berusaha kembali ke kerajaan ayahnya menyelusuri sungai ketika ia dilempar keenam kakaknya.

Ketika sampai ke hulu, Bute Puru melihat sekelompok orang sedang memancing di sungai, dari suaranya Bute Puru tahu mereka adalah orang yang dikenalnya. Tapi tak satupun yang mengenal Bute Puru.

“Ada  apa ini?  Apa yang dipancing wahai Tuan” Kata Bute Puru kepada Hulu Balang.

“Buku peraturan kerajaan  kami di buang orang ke sungai ini. Dan pancing ini ada yang tersangkut, tapi tidak ada yang bisa menariknya. Anak-anak baginda raja tidak ada yang mau mengambilnya di dasar sungai.

“Baginda, bolehkan aku menyelaminya? Kata Bute Puru”

“Silakan anak muda” Jawab raja. Raja tidak tahu kalau orang yang dihadapanya adalah anaknya sendri. Akhirnya Bute Puru masuk ke dalam sungai. Sampai di dasar sungai Bute Puru melihat ada gua, dan melihat seorang gadis yang cantik luar biasa.

“Siapa kau Gadis…, apakah kau penghuni dasar sungai ini? Aku Bute Puru dari kerajaan di atas sana. Maaf..kalau kehadiranku tidak sopan. Aku tengah mencari kitab undang-undang yang jatuh kemari”  Kata Bute Puru

“Aku Temiang, Buku itu ada dengan ayahku. O ya, ayahku seekor naga. Kau harus beralih rupa. Kalau dia tahu ada manusia di sini dia pasti marah, kau pasti akan dimakannya. Sebentar lagi dia akan pulang”

 Benar. Tiba-tiba seekor naga besar datang. Bute Puru buru-buru di ubah Temiang menjadi sekuntum kembang.

“Hmm….aku mencium bau manusia di sini. Apakah kau melihatnya Temiang.., aku ingin memakannya…hmm…”

“Ti..ti..dak ada manusia ayah...eehh...Aa…ayah…, apakah ayah sayang padaku…” Jawab Temiang ragu.

“Ya…jelas….ada apa putriku…tapi..bau manusia itu sangat dekat dengan kita. Aku jadi lapar..grrhhh”

”Jika Ayah sayang padaku..bolehkah aku memohon sesuatu Ayah..”

”Grrhh... apa yang kau pinta putriku...segala telaga di bumi Sriwijaya inikah? Itu kecil ankakku, Nyawaku pun akan kuberikan padamu..”

”Bukan ayah...bukan itu. Tapii...tapiii..”

”Tapi apa Temiang Putriku..” Potong sang Naga menggelegar. Apakah kau inginkan semua ikan di telaga ini?”

”Tidak ayah.., aku hanya ingin...agar ayah tidak memakan manusia satu saja. Aku..aku meyukainya Ayah, dan aku meyayanginya..Apakah Ayah tidak marah..”

 “Oh…ho….ho…baiklah anakku Temiang aku izinkan kau...demi cintaku padamu, nak. Aku lupa kalau kau telah tumbuh dewasa”

Tiba-tiba ”Blep!”  Sekuntum bunga itu berubah menjadi seorang laki-laki gagah dan tampan. Singkat cerita si Naga setuju Bute Puru mempersunting Temiang. Akhirnya Bute Puru diizinkan naik ke darat. Alangkah bersuka citanya raja ketika buku undang-undang itu ditemukan kembali  dan yang lebih membuat Raja bahagia ternyata pemuda  yang gagah perkasa itu adah Bute Puru yang telah berubah atas izin dewa.

“Mana kitab itu anakku..” Sapa Raja.

“Ini ayahanda…” Ketika Bute Puru membuka kotak yang berisi Undang-undang itu, tiba-tiba munculah seorang gadis cantik  luar biasa.

“Hai! Siapa pula kau?” Kata raja terkejut.

“Ayahanda.., ini Temiang calon istriku. Dia adalah purti Naga yang telah menyelamatkan kitab kita” Kata Bute Puru. Raja sangat terharu. Akhirnya untuk mengungkapkan kebahagiannya, dipestakanlah Bute Puru dan Temiang,  Bute Puru  dinobatkan menjadi Raja dan Temiang menjadi permaisurinya. Sementara keenam saudaranya yang jahat, mereka minta maaf pada Bute Puru.Keenamnya menyadari kesalahan mereka. Bute Puru memaafkan mereka dan mengharapkan keenam saudaranya dapat membantunya menjalankan pemerintahan. Akhirnya kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan yang besar dan terkenal di seluruh dunia, berkat kebijakan Bute Pure yang cinta pada rakyatnya***

 =================


Digubah kembali oleh RD.Kedum
Sumber  manuskrip Suandi Syam & masyarakat Lubuklinggau
Bute Puru
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 20.25


Asal Mula Katak di Bumi Asmat, Papua.


Cerita Rakyat Papua
Judul asli :
Ker Araucasam Atakham
Ker dan adik-adiknya


ALKISAH, dahulu di daerah Asmat hiduplah tujuh orang bersaudara yang telah yatim piatu. Ayah dan ibu mereka telah lama meninggal karena suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Anak tertua dari tujuh bersaudara itu bernama Ker. Menyusul di belakangnya, adiknya yang bernama Okhrobit, kemudian Ovorirat. Anak yang keempat, kelima, dan keenam semuanya mempunyai sebuah nama, yaitu Beribit Ua,Beribit Enga,Beribit Uco. Dan yang paling bungsu adalah seorang anak perempuan, bernama Taraot.

Ketujuh orang bersaudara ini sepeninggalan orang tuanya diasuh oleh neneknya, bernama Yamsyaot. Nenek Yamsyaot terkenal sangat keras dalam mendidik mereka. Mereka tinggal di suatu tempat yang terpencil, jauh dari kampung-kampung lainnya. Nenek Yamsyaot membuat sebuah rumah yang hangat bagi cucunya. Rumah itu terbuat dari tiang-tiang kayu dan ijuk sebagai tembok dan atapnya. Rumah tradisional ini terkenal di seluruh Irian Jaya dengan nama honay (honai).

Rumah Honai (rumah adat suku asmat), Papua, Indonesia

Pada suatu hari Ker araucasam atakham ( dalam bahasa Asmat, artinya Ker dan adik-adiknya) turun kesungai untuk mencari ikan. Mereka mempergunakan panah kecil untuk mendapatkan ikan-ikan. Ikan yang banyak terdapat disungai itu adalah ikan vet dan bupit. Tetapi ikan-ikan itu pandai menghindar. Mereka bersembunyi di tepi sungai pada balik batu-batuan di balik batang-batang kayu. Begitu asyiknya Ker dan adik-adiknya memburu ikan-ikan, tak disadarinya anak panahnya mengenai ekor dari seekor ikan gabus yang sangat besar. Rupanya ikan yang akan di bidiknya itu bersembunyi di balik ikan gabus besar yang mungkin dikiranya batang kayu. Anak panah yang dilepaskan Ker mengenai pangkal ekor ikan gabus itu. ikan tersebut menggelepar-gelepar kesakitan.

Keenam saudara itu terkejut dan heran, mereka tidak menyengka akan menemukan ikan gabus sebesar itu. Setelah diselidiki ternyata ikan gabus itu diikat dengan seutas tali rotan dibagian kepalanya. Baru teringatlah olah mereka kalau ikan itu adalah ikan yang dipelihara olah nenek Yamsyaot rupanya ikan itu sudah lama sekali dipelihara sehingga ikan itu sangat besar dan dapat dimakan oleh satu keluarga besar.

Ker merasa sangat menyesal telah melukai ikan itu. nenek sudah dengan susah payah memelihara ikan gabus itu.sekarang karena ulahnya ikan itu hampir mati. Disamping menyesal dia juga takut kalau-kalau perbuatannya diketahui oleh nenek Yamsyaot. Pasti Ker dan adik-adiknya akan dihukum, dikutuk bahkan dibunuh. Oleh karena itu timbullah niat dalam hatinya untuk membunuh ikan gabus itu. ia akan menghabisi ikan itu tanpa sepengetahuan nenek Yamsyaot. Tetapi sebelum menjalankan niatnya, terlebih dahulu ia bermusyawara dengan adik-adiknya. Pada mulanya adik-adiknya tidak setuju dengan niat kakaknya itu. beberapa hari kemudian, diadakan lagi perundingan. Akhirnya mereka sepakat untuk mebunuh ikan gabus yang besar dan gemuk itu.

Anak perempuan dari Suku Asmat, Papua.

Dalam mengadakan musyawara, mereka tidak mengikut sertakan si bungsu Taraot. Taraot sangat dikasihi oleh nenek Yamsyaot. Ia adalah anak perempuan satu-satunya dari ketujuh saudara itu. setelah semua rencana ditetapkan, maka mereka menunggu saatnya nenek Yamsyaot pergi menokok sagu. Tempat itu jauh, biasanya nenek Yamsyaot pergi untuk beberapa hari lamanya.

Sekarang saat yang dinantika telah tiba, pagi sekali nenek Yamsyaot telah berangkat ia berpesan kepada cucunya.

“Ker, engkau anak yang tertua dalam keluarga ini. Nenek berharap engkau dapat menjaga adik-adikmu, dan bertanggung jawab atas segala sesuatu sepeninggalan nenek. Tinggallah kalian baik-baik dirumah, makanlah sagu yang sudah nenek sediakan di dapur.”

Demikian pesan nenek Yamsyaot kepada Ker dan adik-adiknya. Kemudian nenek itu berbalik kepada Taraot, dan menyampaikan pesan pada gadis kecil itu.

“Taraot cucuku, tinggallah bersama kakak-kakakmu dan patuhilah apa yang dikatakan oleh Ker. Tetapi bila engkau tidak diperhatikan dan tinggal sendiri, ikutlah nenek ketempat menokok sagu. Nenek akan memberi tanda (petunjuk jalan) ketempat itu. setelah berkata demikian berangkatlah nenek Yamsyaot.

Sepeninggalan nenek itu Ker dan adik-adiknya bersiap untuk menjalankan rencana mereka. Mereka lalu turun kesungai, mereka membunuh ikan gabus milik nenek Yamsyaot. Ikan itu kemudian dipotong-potong dan diaduk dengan sagu. Setelah dibungkus dengan daun sagu (daun rumbia) lalu dibakar. Pekerjaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan Taraot. Bahkan setelah makanan itu masak, Taraot tak diberi sedikit pun. Mereka khawatir Taraot akan menanyakan dari mana asal makanan itu. Kalau Taraot mengetahui, pasati ia akan memberitahukannya pada nenek Yamsyaot. Tentu saja mereka akan dihukum.

Taraot ternyata mengetahui juga segala apa yang dilakukan oleh kakak-kakaknya. Tanpa sepengetahuan mereka Taraot telah mengintip pekerjaan mereka. Taraot mendengar pembicaraan-pembicaraan mereka sejak beberapa hari sebelumnya. Ia baru keluar dari persembunyiannya setelah kakak-kakaknya menghabiskan makanan itu, ia berpura-pura lapar sekali. Ia meminta makanan dari kakak-kakaknya. Tetapi makanan itu sudah habis dimakan. Tak ada sisa sedikitpun untuk diberikan pada Taraot. Taraot mulai merajuk dan mengatakan, ia akan melaporkan perbuatan mereka pada nenek Yamsyaot.

“Kakak-kakak telah memakan makanan yang lezat, akan tetapi tak sedikpun disimpankan untukku. Biarlah aku akan menyusul nenek”.

Mendengar kata Taraot, maka Ker berkata” pergilah menyusul nenek.memang hanya engkaulah yang dikasihinya. Kami akan pergi dari tempat ini dan engkaulah yang akan mendapatkan seluruh warisannya.

Setelah berkata demikian, Ker dan adik-adiknya bersiap-siap untuk melarikan diri sejauh-jauhnya. Mereka berusaha lari sejauh-jauhnya sebelum Taraot menemui nenek Yamsyaot. Taraot pasti mengadukan perbuatan mereka. Tinggallah Taraot sendiri. Ia merasa dongkol dan marah. Ia pun segera menembus hutan-hutan sagu untuk menemui neneknya. Tak lupa ia memungut dan mengumpulkan tulang-tulang ikan yang di buang kakak-kakaknya. Semua itu akan diserahkan pada nenek Yamsyaot sebagai bukti perbuatan mereka.

Taraot akhirnya sampai didusun sagu tempat nenek Yamsyaot menokok sagu. Dari jauh ia telah memanggil-manggil nama neneknya.

Nenek,nenek! Kau dimana? Ini cucumu Taraot!”beberapa kali ia memenggil demikian. Akhirnya terdengar juga oleh neneknya. Nenek Yamsyaot sangat senang mendengar suara cucunya. Kemudian ia menjawab dengan penuh kegirangan.

“Mari cucu ku sayang! Kenapa engkau datang sendirian mana, kakak-kakak mu?mengapa tidak seorang pun yang mengantarkanmu kesini?” maka berkatalah Taraot dengan sedih bercampur marah.

“Ah…. Nenek. Kakak-kakak itu tidak lagi sayang kepada saya, Mo. Mereka sudah benci kepada saya. Ketika saya lapar mereka tidak memberikan saya makanan. Bahkan semua makanan dihabiskan oleh mereka. Itulah sebabnya saya menyusul nenek ke sini.”

Setelah mendengar pengaduan Taraot, nenek Yamsyaot meraihnya agar dekat. Kemudian nenek itu menghibur cucunya.

“Sudahlah Taraot, jangan merajuk juga. Nanati kita makan bersama-sama disini. Nenek sudah menyediakan sagu bakar. Juga ada udang yang enak dari kali kecil itu. anak laki-laki selamanya tak dapat diharapkan. Padahal nenek telah mengatakan agar mereka sentiasa melindungimu. Ternyata mereka berbuat sebaliknya. Ayo mari kita makan.”

Kemudian mereka makan dengan lahapnya, Taraot sangat lapar. Sehingga ia makan banyak sekali.

Setelah selesai makan, dalam waktu beberapa saat kemudian kantuk mulai menyerang Taraot. Ia tertunduk di bawah pohon dan kepalanmya terangguk-angguk. Melihat cucunya terkantu-kantuk demikian nenek Yamsyaot merasa kasihan. Ia lalu mengangkat cucunya itu. memangkunya sambil membelai-belai kepalanya. Alangkah terkejutnya nenek Yamsyaot tak kala suatu benda menusuk telapak tangannya. Setelah diteliti ternyata sepotong tulang ikan. Rupanya Taraot meletakkan tulang ikan gabus sisa makanan kakak-kakaknya itu di rambutnya. Nenek membangunkan Taraot dan bertanya.

“Mengapa engkau tidak minta tolong kepada kakak-kakak mu untuk mencari kutu di kepalamu ini? Coba liat banyak sekali tulang iakan di kepalamu, dari mana tulang-tulang iakan ini?”

“Nenek! tadi saya sudah katakana, mereka tidak peduli lagi dengan saya tulang-tulang ikan itu adalah bekas makan mereka yang dilemparkan kekepala saya.”

Demikian jawab Taraot kepada neneknya. Kemudian dengan manja lagi ia menyusupkan kepalanya ke bahu neneknya. Tetapi nenek Yamsyaot mendorong tubuh Taraot kedepan, lalu menanyakan apa sebabnya. Nenek Yamsyaot mulai merasa curiga ketiaka memperlihatkan tulang-tulang ikan itu. nalurinya mengatakan bahwa itu adalah tulang seekor ikan gabus yang sangat besar.

Taraot lalu menceritakan bahwa kakak-kakaknya telah menangkap seekor ikan gabus yang sangat besar. Menurut dugaanya ikan itu adalah ikan yang dipelihara nenek Yamsyaot. Ikan itu telah dipotong-potong lalu dibakar, mereka telah menghabiskan ikan itu. beserta sagunya. Mereka tidak memberi sedikitpun kepadanya. Mendengar hal itu nenek Yamsyaot menjadi berang, ia lalu bertanya lagi.

“apakah ikan itu yang terikat disungai dengan seutas rotan?”

“benarlah nek. Saya lihat mereka menariknya dengan rotan.”

Mendengar perkataan itu nenek Yamsyaot semakin marah. Disaat itu juga ia menuduh cucunya itu bersekongkol dengan keenam kakak-kakaknya. Ia datang kesitu hanya untuk mengelabui nenek Yamsyaot.

Amarah nenek itu tak tertahankan lagi. Taraot diangkatnya tinggi-tinggi lalau dilemparkannya keatas pucuk pohon sagu. Taraot tersangkut disana. Kemudian nenek yang bengis itu menyuruh cucunya mengeluarkan suara: khar,khar,khar.

Sejak saat itu Taraot berubah jadi seekor katak, itulah cerita asala mula adanya katak dibumi Asmat hingga saat ini.















Sumber:http://tabloidjubi.wordpress.comPhoto:http://pinterest.com/pin/96405248243582991/http://imageshack.us/photo/my-images/515/papua.jpg/
Asal Mula Katak di Bumi Asmat, Papua.
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 00.32


The Legend of Tanjung Menangis (Cape Weeps)

Follktale from Halmahera island, Molucca
Genre : Legend



Once upon a time there were a great empire on the island of Halmahera. King had recently died. He left two sons and one daughter. They named Majesty Arif, son Binaut Majesty and Majesty Princess Nuri. Binaut king’s sons really wanted the position as king to succeed his father. The desire was conveyed to the royal governor. “I had to replace the position of my father.” Said Binaut to the duke with confidence.

In order for the duke of supporting the plan, then Binaut gave promise that the office of the regent will be retained, and he will be rewarded gold diamond. Thanks persuasions and promises that, the duke agreed to support Binaut be king. The duke immediately set the royal guards to catch Majesty the Queen, Son and Daughter Sire Sire Arif Nuri. Once captured, they were thrown in the dungeon.

“Kanda Binaut really cruel! Greedy! Do not know myself! “Vituperation daughter Nuri sire with great emotion. However, Majesty Queen requested that Nuri patience and resignation in the face of this ordeal. “The truth will seem right and wrong will seem wrong. And the one that would later receive a just punishment, “said Majesty the Queen entertains with full of motherhood, how very hurt to see his biological son atrocities.

Binaut feel excited after plunging mother and siblings to prison. He announced to the people that the royal Majesty the Queen and their children experiencing disaster at sea. At that, the king’s son Binaut ask the court to the authorities immediately sworn in as king. Since then, the King Binaut being arrogant and snobby. He is considered as the most powerful king on earth.

For the benefit of himself, he ordered all the people of the kingdom to work diligently to build a magnificent palace. In addition, various levies imposed taxes, including taxes crops, animal tax, land tax. “Unbelievable! King Binaut exploiters and oppressors of the people, “said one resident to another. They complained to the regulations issued by the King Binaut extremely detrimental to the people. However, they are afraid to protest, let alone stand up to the king, must be punished heavily.


There was a palace maid named Wisdom. He escaped from the palace and form a formidable force against the king Binaut. At the very least, they can free Majesty the Queen and her son and daughter. “We must act quickly to save them,” Wise said hopefully. This is supported by his friends.

At that time, many court officials who have defected to join the Wise. Wise had been studying how the rescue was conducted. If rescue is successful, planned conduct incursions into the court of King Binaut. Thanks to the wise leadership, in an instant they had rescued Majesty the Queen and her children were imprisoned Binaut. They were immediately taken to the woods.

“I thanked infinite,” said Majesty the Queen with a hiccup. They look emaciated because during incarceration in the basement rarely eat and drink. Wise also convey to Your Majesty the Queen will hold the attack on the palace. But Majesty the Queen does not agree, he did not want blood on their own people. Greed, cruelty, envy and jealousy to be inferior to that submitted petitions to the Lord.


King Binaut apply arbitrarily to its people. The duke who has always supported the King’s decision eventually Binaut not happy with the behavior of the King. But he did not dare to issue a stance against. If that made sure he was fired and thrown in jail. When the prison was filled with the detainees. “Who against King, punishment penjaralah place.” That arrogance King Binaut. Because he was the most powerful and high.

Namn unexpectedly, a natural disaster occurs. A very powerful volcanic eruption. Hot lava flows in all directions. Binaut King’s Palace was the subject of hot lava. Apparently most of the hot lava had devastating devastated palace buildings newly constructed from the sweat of the people. King Binaut confusion for cover. He ran helter-skelter not knowing where to go.


Surprisingly, lava as if chasing wherever the King Binaut run. “Please-please!” Cried Binaut. Hot lava that gradually Binaut foot stuck. Immediately his feet blistered and peeling skin. He tried to not stop running. Hot lava began to creep into his body. He was tortured. When he suffered torture hot lava that he remembers his mother. He begged forgiveness. “Forgive me, Mom! Excuse me, ma’am! I can not endure this suffering! I will not betray my mother, brother and sister Arif Nuri again. Please forgive me! Mom! Mom! “Shouted Binaut pain. But the cry is lost slowly and eventually he died.

Binaut’s body washed up on a beach. Immediately the place was turned into a cape. That said, the cape was often heard people crying for mercy because they suffered extreme torture. Now the place was called the Cape terdamparnya Binaut Crying.

Moral: Moral: The nature of envy, jealousy and greed will bring harm and retaliation in kind. Therefore shun those properties.


The Legend of Tanjung Menangis (Cape Weeps)
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 21.05


KALARAHU

Pada suatu ketika Batara Guru ingin mengadakan pesta besar di Kayangan Jonggring Salaka . Batara Guru kemudian menugasi Resi Narada untuk mengumpulkan para dewa dan dewi di Kayangan Jonggring Salaka. Dalam pesta itu para dewa dan dewi diizinkan minum toya urip ·air penghidupan'. Siapa saja yang telah minum air penghidupan itu dapat hidup abadi.

Resi Narada pun segera mengumpulkan para dewa dan dewi di Kayangan Jonggring Salaka. Dalam sekejap saja para dewa dan dewi dari segenap penjuru mata angin tiba di Kayangan Jonggring Salaka. Mereka berkumpul di pendapa istana Juggring Salaka yang sangat megah itu.

Air penghidupan dalam cupu manik astagina telah dituangkan ke dalam botol yang terbuat dari jamrud. Botol jamrud itu lalu diletakkan di atas meja yang terbuat dari mutiara. Para pembesar dewa dan dewi dipersilakan mengambil air penghidupun itu lebih dahulu. Setelah itu disusul para dewa dan dewi biasa. Sangat senanglah para dewa dan dewi itu. Air penghidupan itu baunya harum dan sangat dingin sehingga tubuh para dewa dan dewi itu menjadi sangat segar.

Pada waktu itu di angkasa ada raksasa bernama Kalarahu . Ia melihat para dewa dan dewi sedang minum air penghidupan. Kalarahu lalu berkata dalam hati, "Jika aku dapat minum air penghidupan seperti para dewa dan dewi itu pasti aku akan hidup abadi . Aku tidak akan mati selamanya."

Kalarahu kemudian menyamar menjadi dewa dan ikut dalam pesta minum-minum air penghidupan itu. Dewa Matahari (Sang Hyang Surya) dan Dewa Bulan (Sang Hyang Candra) tahu bahwa Kalarahu menyamar sebagai dewa ikut dalam pesta itu. Mereka segera memberi tahu kepada Sang Hyang Wisnu. Ketika melihat Kalarahu sedang minum air. penghidupan, Sang Hyang Wisnu segera melepaskan panah cakranya tepat di leher Kalarahu. Putuslah leher raksasa Kularahu sehingga kepalanya melesat ke angkasa. Kepala Kalarahu tetap hidup abadi karena ia telah minum air penghidupan sampai di tenggoroknya.

Kalarahu tahu bahwa semua ini disebabkan oleh Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang melaporkan kepada Sang Hyang Wisnu. Oleh karena itu. Kalarahu sangat marah kepada kedua dewa itu. "Hai, Dewa Matahari dan Dewa Bulan. sewaktu-waktu kalian akan kutelan hidup-hidup," ancam Kalarahu kepada dua dewa itu.

Setelah selesai mengadakan pesta para dewa dan dewi itu kembali ke tempat mereka masing-masing. Dewa Matahari dan Dewa Bulan pun juga kembali ke tempat mereka. Kalarahu·kemudian mengejar Dewa Matahari dan Dewa Bulan untuk ditelannya. Kedua dewa itupun terus terbang ke angkasa. Kalarahu tidak putus-asa ia terus mengejar kedua dewa itu.

Pada suatu ketika Dewa Matahari tertangkap oleh Kalarahu dan ditelannya. Akan tetapi, Dewa Matahari dapat keluar lagi karena Kalarahu tidak mempunyai perut, hanya kepala saja. Begitu pula ketika Dewa Bulan ditelan oleh Kalarahu, ia juga dapat keluar lagi. Pada waktu Dewa Matahari ditelan oleh Kalarahu itu terjadilah gerhana matahari dan pada waktu Dewa Bulan ditelan oleh Kalarahu terjadilah gerhana bulan.

Sampai sekarang masih ada masyarakat Jawa yang percaya bahwa terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan itu karena matahari dan bulan ditelan oleh Kalarahu.

Pada suatu ketika Dewa Matahari tertangkap oieh Kalarahu dan ditelannya

KALARAHU
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 20.52