Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan

Cerita Rakyat Malin Kundang: Kutukan Seorang Ibu di Pantai Air Manis

 Cerita Rakyat Malin Kundang: Kutukan Seorang Ibu di Pantai Air Manis

Di sebuah desa kecil di pesisir Sumatera Barat, hiduplah seorang janda miskin bersama anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang. Sejak kecil, Malin dikenal sebagai anak yang cerdas, rajin, dan penuh semangat. Ibunya bekerja keras menjual kue dan hasil laut agar Malin bisa hidup layak, meski mereka hanya tinggal di gubuk sederhana.

Namun, kemiskinan membuat Malin bercita-cita tinggi. Ia ingin merantau, mencari kehidupan yang lebih baik. Sang ibu awalnya ragu, tetapi akhirnya merelakan kepergian anaknya dengan doa dan harapan agar Malin sukses dan tak melupakan kampung halaman.

🌊 Perjalanan Merantau

Malin Kundang pun berlayar bersama kapal dagang. Tahun demi tahun berlalu, dan kabar tentang Malin tak pernah sampai ke telinga sang ibu. Ia tetap menunggu di tepi pantai, berharap anaknya pulang dengan kabar baik.

Di negeri seberang, Malin benar-benar berhasil. Ia menjadi saudagar kaya, memiliki kapal besar, rumah megah, dan menikahi perempuan bangsawan. Namun, dalam kemewahan itu, Malin mulai melupakan asal-usulnya.

🏝️ Kepulangan yang Menyakitkan

Suatu hari, kapal Malin Kundang berlabuh di pelabuhan dekat kampung halamannya. Warga desa mengenali Malin dan segera menyampaikan kabar kepada ibunya. Dengan penuh haru, sang ibu berlari ke pantai, memanggil nama anaknya yang telah lama dirindukan.

Namun, Malin Kundang yang kini berpakaian mewah dan didampingi istrinya, menolak mengakui ibunya. Ia merasa malu memiliki ibu yang tua dan berpakaian lusuh. Ia bahkan mengusir sang ibu dan menyuruh pengawal menjauhkan perempuan tua itu dari dirinya.

Sang ibu tertegun. Air matanya mengalir deras. Dengan hati yang hancur, ia menengadah ke langit dan berdoa:

“Ya Tuhan, jika benar dia anakku, dan dia telah durhaka padaku, maka hukumlah dia.”

⚡ Kutukan dan Batu Malin Kundang

Tak lama setelah doa itu terucap, langit mendung. Petir menyambar, angin kencang mengguncang kapal Malin Kundang. Ombak besar menghantam pantai. Di tengah badai itu, tubuh Malin Kundang perlahan membatu. Ia bersujud, seolah menyesali perbuatannya, tetapi semuanya sudah terlambat.

Hingga kini, di Pantai Air Manis, Padang, terdapat batu yang menyerupai tubuh manusia bersujud. Masyarakat percaya bahwa itu adalah batu Malin Kundang, simbol anak durhaka yang dikutuk oleh ibunya sendiri.

🧠 Pesan Moral

Cerita Malin Kundang mengajarkan kita tentang:

  • Bakti kepada orang tua adalah kewajiban yang tak boleh diabaikan.

  • Kesombongan dan pengingkaran asal-usul bisa membawa kehancuran.

  • Doa seorang ibu adalah kekuatan yang tak bisa diremehkan.

Cerita Rakyat Malin Kundang: Kutukan Seorang Ibu di Pantai Air Manis
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 02.01


Bute Puru


Cerita Rakyat dari Musi Rawas

Anak-anak di Babat (tahun 1931) Suku Tengah Lakitan Ulu Terawas, Musi Rawas. ( Sumber : Tropen Museum)


Cerita ini berasal dari dari Batu Kuning Lakitan Ulu Terawas, kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan. Konon menurut legenda ada kerajaan lama bernama kerajaan Sriwijaya yang di pimpin oleh seorang raja arif bijaksana. Sang raja memiliki tujuh orang putra. Yang paling bungsu diberi nama Bute Puru. Bute artinya buta, Puru artinya koreng atau kurap. Oleh sebab itulah si bungsu diberi nama Bute Puru. Bute Puru merupakan anak yang cerdas, berbudi pekerti luhur. Lain sekali dengan keenam saudaranya. Semuanya berhati culas, jahat, dan kejam.

                Suatu hari, sang raja memanggil ketujuh putranya. Sang raja menyampaikan bahwa dirinya sudah tua. Sudah sepantasnya dia digantikan oleh salah satu putranya.

                “Anak-anakku…ayah  sudah tua nak, sudah waktunya ayah harus istirahat ayah ingin salah satu kalian menggantikan ayah”

“Aku ayah! Aku! Akulah yang pantas menggantikan ayah” Jawab putra-putranya serentak. Hanya Bute Puru yang merunduk tak bergeming.

                “Bagaimana denganmu bungsu, apakah kau tidak ingin menjadi raja?”

“Ayahanda raja, bukankah kita punya tata cara aturan pemilihan raja? Hanya ayahanda yang tahu di antara kami siapa yang pantas menjadi raja untuk menggantikan ayahanda?” jawab Bute Puru hormat.  Sang raja tersenyum bahagia. Dalam hati ia memuji  Bute Puru. Kemudian raja membacakan kriteria menjadi raja. Salah satu syaratnya cerdas,  mempunyai kharisma dan berhati mulia. Hal itu hanya dimiliki oleh bungsu. Kharisma seorang pemimpin ada pada putra bungsunya.

 “Baik, berikan ayah waktu untuk memilih siapa yang pantas menjadi raja menggantikan aku “  Kata Raja.

Raja mulai berpikir keras. Hanya si bungsu yang pantas menjadi pemimpin dan mempunyai kriteria sesuai dengan aturan adat mereka. Tapi raja ragu, bagaimana mungkin negeri besar ini akan dipimpin oleh seorang yang buta dan penuh koreng pula?. Tapi apa jadinya jika negeri yang besar ini dipimpin oleh raja-raja culas, serakah seperti keenam putranya?

 Suatu hari, baginda raja pergi keluar kota untuk menghadiri perhelatan negara tetangga. Keenam putranya berembuk untuk menyingkirkan Bute Puru. Sebab mereka tahu, ayahanda pasti akan meilih Bute Puru untuk menjadi raja.

“Kita harus singkirkan Bute Puru dari bumi ini. Aku muak melihatnya. Buta! Puruan lagi! Chih!!”  Kata Sulung.

“Betul Kanda! Kita lenyapkan saya Bute tu, aku juga tak suka dengannya!” Kata yang nomor tiga pula.

“Tapi  mau kita singkirkan kemana? Dia itu kan adik kita juga kanda sulung?” Kata yang nomor enam.

“Aaa…mau kau bela pula bute puruan tu?” Kata nomor empat sambil meninju kepala nomor enam.

“Entahlah seperti orang yang mulia saja engkau” tambah nomor lima.

Akhirnya suatu malam Bute Puru mereka paksa keluar istana, dan dilemparkanlah Bute Puru ke dalam sungai yang deras. Berikut buku aturan undang-undang kerajaan mereka.

“Kak…apa salahku kak? Aku tidak pernah mengharap jadi raja” kata Bute Puru memelas.

“Ah..!! kami tahu ayahanda pasti akan memilih engkau Bute!! Kami tidak mau punya raja yang bute, puruan seperti kau! Ayahanda raja memang tidak punya mata. Kamilah sepantasnya menjadi raja. Tidak buta, dan tidak puruan!”

“Tapi….tapi…kak…aaauuuu”

“Byuuur!!!” Bute puru dilempar ke dalam sungai dan terbawa arus deras. Dengan susah paya Bute Puru berusaha mencari pegangan. Akhirnya ada sebilah bambu yang tersangkut di  akar. Bute Puru berpegangan kuat-kuat dan berusaha naik ke darat. Dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan, Bute Puru mencari tempat berteduh. Berteduhlah Bute Puru di bawah pohon yang besar.

Bute Puru tidak tahu kalau hari telah malam. Dan malam itu malam bulan purnama. Kebetulan pada malam itu lima dewa turun ke bumi untuk mengadakan sidang tentang kelanjutan kerajaan Sriwijaya. Dipilihnyalah kayu besar persis tempat Bute Puru berteduh. Sehingga pembicaraan mereka di dengar oleh Bute Puru.

“Kerajaan Sriwijaya itu akan tentram apabila dipimpin oleh Bute Puru. Bute Puru akan sembuh apabila mandi di air telaga dewa. Dia tidak akan buta dan puruan lagi” Kata salah satu dewa. Akhirnya, keesokannya berjalanlah Bute Puru berusaha mencari telaga dewa. Dia tidak tahu harus pergi ke arah mana. Tiba-tiba…”Byuur!!” Bute Puru terpeosok dan masuk dalam air. Ajaib!! Kulitnya yang korengan menjadi bersih bercahaya, dan matanya yang buta dapat melihat. Dengan penuh sukur Bute Puru berusaha kembali ke kerajaan ayahnya menyelusuri sungai ketika ia dilempar keenam kakaknya.

Ketika sampai ke hulu, Bute Puru melihat sekelompok orang sedang memancing di sungai, dari suaranya Bute Puru tahu mereka adalah orang yang dikenalnya. Tapi tak satupun yang mengenal Bute Puru.

“Ada  apa ini?  Apa yang dipancing wahai Tuan” Kata Bute Puru kepada Hulu Balang.

“Buku peraturan kerajaan  kami di buang orang ke sungai ini. Dan pancing ini ada yang tersangkut, tapi tidak ada yang bisa menariknya. Anak-anak baginda raja tidak ada yang mau mengambilnya di dasar sungai.

“Baginda, bolehkan aku menyelaminya? Kata Bute Puru”

“Silakan anak muda” Jawab raja. Raja tidak tahu kalau orang yang dihadapanya adalah anaknya sendri. Akhirnya Bute Puru masuk ke dalam sungai. Sampai di dasar sungai Bute Puru melihat ada gua, dan melihat seorang gadis yang cantik luar biasa.

“Siapa kau Gadis…, apakah kau penghuni dasar sungai ini? Aku Bute Puru dari kerajaan di atas sana. Maaf..kalau kehadiranku tidak sopan. Aku tengah mencari kitab undang-undang yang jatuh kemari”  Kata Bute Puru

“Aku Temiang, Buku itu ada dengan ayahku. O ya, ayahku seekor naga. Kau harus beralih rupa. Kalau dia tahu ada manusia di sini dia pasti marah, kau pasti akan dimakannya. Sebentar lagi dia akan pulang”

 Benar. Tiba-tiba seekor naga besar datang. Bute Puru buru-buru di ubah Temiang menjadi sekuntum kembang.

“Hmm….aku mencium bau manusia di sini. Apakah kau melihatnya Temiang.., aku ingin memakannya…hmm…”

“Ti..ti..dak ada manusia ayah...eehh...Aa…ayah…, apakah ayah sayang padaku…” Jawab Temiang ragu.

“Ya…jelas….ada apa putriku…tapi..bau manusia itu sangat dekat dengan kita. Aku jadi lapar..grrhhh”

”Jika Ayah sayang padaku..bolehkah aku memohon sesuatu Ayah..”

”Grrhh... apa yang kau pinta putriku...segala telaga di bumi Sriwijaya inikah? Itu kecil ankakku, Nyawaku pun akan kuberikan padamu..”

”Bukan ayah...bukan itu. Tapii...tapiii..”

”Tapi apa Temiang Putriku..” Potong sang Naga menggelegar. Apakah kau inginkan semua ikan di telaga ini?”

”Tidak ayah.., aku hanya ingin...agar ayah tidak memakan manusia satu saja. Aku..aku meyukainya Ayah, dan aku meyayanginya..Apakah Ayah tidak marah..”

 “Oh…ho….ho…baiklah anakku Temiang aku izinkan kau...demi cintaku padamu, nak. Aku lupa kalau kau telah tumbuh dewasa”

Tiba-tiba ”Blep!”  Sekuntum bunga itu berubah menjadi seorang laki-laki gagah dan tampan. Singkat cerita si Naga setuju Bute Puru mempersunting Temiang. Akhirnya Bute Puru diizinkan naik ke darat. Alangkah bersuka citanya raja ketika buku undang-undang itu ditemukan kembali  dan yang lebih membuat Raja bahagia ternyata pemuda  yang gagah perkasa itu adah Bute Puru yang telah berubah atas izin dewa.

“Mana kitab itu anakku..” Sapa Raja.

“Ini ayahanda…” Ketika Bute Puru membuka kotak yang berisi Undang-undang itu, tiba-tiba munculah seorang gadis cantik  luar biasa.

“Hai! Siapa pula kau?” Kata raja terkejut.

“Ayahanda.., ini Temiang calon istriku. Dia adalah purti Naga yang telah menyelamatkan kitab kita” Kata Bute Puru. Raja sangat terharu. Akhirnya untuk mengungkapkan kebahagiannya, dipestakanlah Bute Puru dan Temiang,  Bute Puru  dinobatkan menjadi Raja dan Temiang menjadi permaisurinya. Sementara keenam saudaranya yang jahat, mereka minta maaf pada Bute Puru.Keenamnya menyadari kesalahan mereka. Bute Puru memaafkan mereka dan mengharapkan keenam saudaranya dapat membantunya menjalankan pemerintahan. Akhirnya kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan yang besar dan terkenal di seluruh dunia, berkat kebijakan Bute Pure yang cinta pada rakyatnya***

 =================


Digubah kembali oleh RD.Kedum
Sumber  manuskrip Suandi Syam & masyarakat Lubuklinggau
Bute Puru
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 20.25


Asal Mula Katak di Bumi Asmat, Papua.


Cerita Rakyat Papua
Judul asli :
Ker Araucasam Atakham
Ker dan adik-adiknya


ALKISAH, dahulu di daerah Asmat hiduplah tujuh orang bersaudara yang telah yatim piatu. Ayah dan ibu mereka telah lama meninggal karena suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Anak tertua dari tujuh bersaudara itu bernama Ker. Menyusul di belakangnya, adiknya yang bernama Okhrobit, kemudian Ovorirat. Anak yang keempat, kelima, dan keenam semuanya mempunyai sebuah nama, yaitu Beribit Ua,Beribit Enga,Beribit Uco. Dan yang paling bungsu adalah seorang anak perempuan, bernama Taraot.

Ketujuh orang bersaudara ini sepeninggalan orang tuanya diasuh oleh neneknya, bernama Yamsyaot. Nenek Yamsyaot terkenal sangat keras dalam mendidik mereka. Mereka tinggal di suatu tempat yang terpencil, jauh dari kampung-kampung lainnya. Nenek Yamsyaot membuat sebuah rumah yang hangat bagi cucunya. Rumah itu terbuat dari tiang-tiang kayu dan ijuk sebagai tembok dan atapnya. Rumah tradisional ini terkenal di seluruh Irian Jaya dengan nama honay (honai).

Rumah Honai (rumah adat suku asmat), Papua, Indonesia

Pada suatu hari Ker araucasam atakham ( dalam bahasa Asmat, artinya Ker dan adik-adiknya) turun kesungai untuk mencari ikan. Mereka mempergunakan panah kecil untuk mendapatkan ikan-ikan. Ikan yang banyak terdapat disungai itu adalah ikan vet dan bupit. Tetapi ikan-ikan itu pandai menghindar. Mereka bersembunyi di tepi sungai pada balik batu-batuan di balik batang-batang kayu. Begitu asyiknya Ker dan adik-adiknya memburu ikan-ikan, tak disadarinya anak panahnya mengenai ekor dari seekor ikan gabus yang sangat besar. Rupanya ikan yang akan di bidiknya itu bersembunyi di balik ikan gabus besar yang mungkin dikiranya batang kayu. Anak panah yang dilepaskan Ker mengenai pangkal ekor ikan gabus itu. ikan tersebut menggelepar-gelepar kesakitan.

Keenam saudara itu terkejut dan heran, mereka tidak menyengka akan menemukan ikan gabus sebesar itu. Setelah diselidiki ternyata ikan gabus itu diikat dengan seutas tali rotan dibagian kepalanya. Baru teringatlah olah mereka kalau ikan itu adalah ikan yang dipelihara olah nenek Yamsyaot rupanya ikan itu sudah lama sekali dipelihara sehingga ikan itu sangat besar dan dapat dimakan oleh satu keluarga besar.

Ker merasa sangat menyesal telah melukai ikan itu. nenek sudah dengan susah payah memelihara ikan gabus itu.sekarang karena ulahnya ikan itu hampir mati. Disamping menyesal dia juga takut kalau-kalau perbuatannya diketahui oleh nenek Yamsyaot. Pasti Ker dan adik-adiknya akan dihukum, dikutuk bahkan dibunuh. Oleh karena itu timbullah niat dalam hatinya untuk membunuh ikan gabus itu. ia akan menghabisi ikan itu tanpa sepengetahuan nenek Yamsyaot. Tetapi sebelum menjalankan niatnya, terlebih dahulu ia bermusyawara dengan adik-adiknya. Pada mulanya adik-adiknya tidak setuju dengan niat kakaknya itu. beberapa hari kemudian, diadakan lagi perundingan. Akhirnya mereka sepakat untuk mebunuh ikan gabus yang besar dan gemuk itu.

Anak perempuan dari Suku Asmat, Papua.

Dalam mengadakan musyawara, mereka tidak mengikut sertakan si bungsu Taraot. Taraot sangat dikasihi oleh nenek Yamsyaot. Ia adalah anak perempuan satu-satunya dari ketujuh saudara itu. setelah semua rencana ditetapkan, maka mereka menunggu saatnya nenek Yamsyaot pergi menokok sagu. Tempat itu jauh, biasanya nenek Yamsyaot pergi untuk beberapa hari lamanya.

Sekarang saat yang dinantika telah tiba, pagi sekali nenek Yamsyaot telah berangkat ia berpesan kepada cucunya.

“Ker, engkau anak yang tertua dalam keluarga ini. Nenek berharap engkau dapat menjaga adik-adikmu, dan bertanggung jawab atas segala sesuatu sepeninggalan nenek. Tinggallah kalian baik-baik dirumah, makanlah sagu yang sudah nenek sediakan di dapur.”

Demikian pesan nenek Yamsyaot kepada Ker dan adik-adiknya. Kemudian nenek itu berbalik kepada Taraot, dan menyampaikan pesan pada gadis kecil itu.

“Taraot cucuku, tinggallah bersama kakak-kakakmu dan patuhilah apa yang dikatakan oleh Ker. Tetapi bila engkau tidak diperhatikan dan tinggal sendiri, ikutlah nenek ketempat menokok sagu. Nenek akan memberi tanda (petunjuk jalan) ketempat itu. setelah berkata demikian berangkatlah nenek Yamsyaot.

Sepeninggalan nenek itu Ker dan adik-adiknya bersiap untuk menjalankan rencana mereka. Mereka lalu turun kesungai, mereka membunuh ikan gabus milik nenek Yamsyaot. Ikan itu kemudian dipotong-potong dan diaduk dengan sagu. Setelah dibungkus dengan daun sagu (daun rumbia) lalu dibakar. Pekerjaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan Taraot. Bahkan setelah makanan itu masak, Taraot tak diberi sedikit pun. Mereka khawatir Taraot akan menanyakan dari mana asal makanan itu. Kalau Taraot mengetahui, pasati ia akan memberitahukannya pada nenek Yamsyaot. Tentu saja mereka akan dihukum.

Taraot ternyata mengetahui juga segala apa yang dilakukan oleh kakak-kakaknya. Tanpa sepengetahuan mereka Taraot telah mengintip pekerjaan mereka. Taraot mendengar pembicaraan-pembicaraan mereka sejak beberapa hari sebelumnya. Ia baru keluar dari persembunyiannya setelah kakak-kakaknya menghabiskan makanan itu, ia berpura-pura lapar sekali. Ia meminta makanan dari kakak-kakaknya. Tetapi makanan itu sudah habis dimakan. Tak ada sisa sedikitpun untuk diberikan pada Taraot. Taraot mulai merajuk dan mengatakan, ia akan melaporkan perbuatan mereka pada nenek Yamsyaot.

“Kakak-kakak telah memakan makanan yang lezat, akan tetapi tak sedikpun disimpankan untukku. Biarlah aku akan menyusul nenek”.

Mendengar kata Taraot, maka Ker berkata” pergilah menyusul nenek.memang hanya engkaulah yang dikasihinya. Kami akan pergi dari tempat ini dan engkaulah yang akan mendapatkan seluruh warisannya.

Setelah berkata demikian, Ker dan adik-adiknya bersiap-siap untuk melarikan diri sejauh-jauhnya. Mereka berusaha lari sejauh-jauhnya sebelum Taraot menemui nenek Yamsyaot. Taraot pasti mengadukan perbuatan mereka. Tinggallah Taraot sendiri. Ia merasa dongkol dan marah. Ia pun segera menembus hutan-hutan sagu untuk menemui neneknya. Tak lupa ia memungut dan mengumpulkan tulang-tulang ikan yang di buang kakak-kakaknya. Semua itu akan diserahkan pada nenek Yamsyaot sebagai bukti perbuatan mereka.

Taraot akhirnya sampai didusun sagu tempat nenek Yamsyaot menokok sagu. Dari jauh ia telah memanggil-manggil nama neneknya.

Nenek,nenek! Kau dimana? Ini cucumu Taraot!”beberapa kali ia memenggil demikian. Akhirnya terdengar juga oleh neneknya. Nenek Yamsyaot sangat senang mendengar suara cucunya. Kemudian ia menjawab dengan penuh kegirangan.

“Mari cucu ku sayang! Kenapa engkau datang sendirian mana, kakak-kakak mu?mengapa tidak seorang pun yang mengantarkanmu kesini?” maka berkatalah Taraot dengan sedih bercampur marah.

“Ah…. Nenek. Kakak-kakak itu tidak lagi sayang kepada saya, Mo. Mereka sudah benci kepada saya. Ketika saya lapar mereka tidak memberikan saya makanan. Bahkan semua makanan dihabiskan oleh mereka. Itulah sebabnya saya menyusul nenek ke sini.”

Setelah mendengar pengaduan Taraot, nenek Yamsyaot meraihnya agar dekat. Kemudian nenek itu menghibur cucunya.

“Sudahlah Taraot, jangan merajuk juga. Nanati kita makan bersama-sama disini. Nenek sudah menyediakan sagu bakar. Juga ada udang yang enak dari kali kecil itu. anak laki-laki selamanya tak dapat diharapkan. Padahal nenek telah mengatakan agar mereka sentiasa melindungimu. Ternyata mereka berbuat sebaliknya. Ayo mari kita makan.”

Kemudian mereka makan dengan lahapnya, Taraot sangat lapar. Sehingga ia makan banyak sekali.

Setelah selesai makan, dalam waktu beberapa saat kemudian kantuk mulai menyerang Taraot. Ia tertunduk di bawah pohon dan kepalanmya terangguk-angguk. Melihat cucunya terkantu-kantuk demikian nenek Yamsyaot merasa kasihan. Ia lalu mengangkat cucunya itu. memangkunya sambil membelai-belai kepalanya. Alangkah terkejutnya nenek Yamsyaot tak kala suatu benda menusuk telapak tangannya. Setelah diteliti ternyata sepotong tulang ikan. Rupanya Taraot meletakkan tulang ikan gabus sisa makanan kakak-kakaknya itu di rambutnya. Nenek membangunkan Taraot dan bertanya.

“Mengapa engkau tidak minta tolong kepada kakak-kakak mu untuk mencari kutu di kepalamu ini? Coba liat banyak sekali tulang iakan di kepalamu, dari mana tulang-tulang iakan ini?”

“Nenek! tadi saya sudah katakana, mereka tidak peduli lagi dengan saya tulang-tulang ikan itu adalah bekas makan mereka yang dilemparkan kekepala saya.”

Demikian jawab Taraot kepada neneknya. Kemudian dengan manja lagi ia menyusupkan kepalanya ke bahu neneknya. Tetapi nenek Yamsyaot mendorong tubuh Taraot kedepan, lalu menanyakan apa sebabnya. Nenek Yamsyaot mulai merasa curiga ketiaka memperlihatkan tulang-tulang ikan itu. nalurinya mengatakan bahwa itu adalah tulang seekor ikan gabus yang sangat besar.

Taraot lalu menceritakan bahwa kakak-kakaknya telah menangkap seekor ikan gabus yang sangat besar. Menurut dugaanya ikan itu adalah ikan yang dipelihara nenek Yamsyaot. Ikan itu telah dipotong-potong lalu dibakar, mereka telah menghabiskan ikan itu. beserta sagunya. Mereka tidak memberi sedikitpun kepadanya. Mendengar hal itu nenek Yamsyaot menjadi berang, ia lalu bertanya lagi.

“apakah ikan itu yang terikat disungai dengan seutas rotan?”

“benarlah nek. Saya lihat mereka menariknya dengan rotan.”

Mendengar perkataan itu nenek Yamsyaot semakin marah. Disaat itu juga ia menuduh cucunya itu bersekongkol dengan keenam kakak-kakaknya. Ia datang kesitu hanya untuk mengelabui nenek Yamsyaot.

Amarah nenek itu tak tertahankan lagi. Taraot diangkatnya tinggi-tinggi lalau dilemparkannya keatas pucuk pohon sagu. Taraot tersangkut disana. Kemudian nenek yang bengis itu menyuruh cucunya mengeluarkan suara: khar,khar,khar.

Sejak saat itu Taraot berubah jadi seekor katak, itulah cerita asala mula adanya katak dibumi Asmat hingga saat ini.















Sumber:http://tabloidjubi.wordpress.comPhoto:http://pinterest.com/pin/96405248243582991/http://imageshack.us/photo/my-images/515/papua.jpg/
Asal Mula Katak di Bumi Asmat, Papua.
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 00.32


Siraso sang Dewi Bibit Suku Nias | Cerita Rakyat Indonesia

Siraso sang Dewi Bibit Suku Nias



Buruti Siraso (Siraso) adalah putri dari Raja Balugu Silaride Ana’a di Teteholi Ana’a. Balugu Silaride Ana’a adalah keturunan lebih dari sepuluh setelah Balugu Luo Mewöna. Siraso memiliki saudara kembar laki-laki bernama Silögu Mbanua (Silögu).

Di Teteholi Ana’a, Siraso rajin mendatangi rakyat saat penaburan bibit sehingga tanaman subur dan berbuah lebat. Sedang Silögu gemar mendatangi rakyat saat panen sehingga bulir-bulir panenan banyak dan bernas.

Ketika memilih jodoh, Siraso mengidamkan suami yang mirip kembarannya, demikian pula Silögu ingin beristri seorang wanita persis Siraso. Untuk mencari jodohnya, Silögu pergi berkelana. Sementara Siraso diturunkan ayahnya ke muara sungai Oyo. Anak kembar itu dipisah agar tidak terjadi incest (kawin sumbang). Dari muara sungai Oyo, Siraso meneruskan perjalanan ke hulu, tiba di suatu dataran rendah yang kemudian bernama Hiyambanua, dan bermukim di situ.

Setelah setahun berkelana Silögu pulang. Di rantau dia tidak menemukan idamannya, di Teteholi Ana’a dia juga tidak bertemu kembarannya. Menurut ayahnya, Siraso telah meninggal dunia. Betapa gundah-gulana hati Silögu. Akhirnya, Silögu mohon diturunkan ke bumi. Silögu kebetulan diturunkan di muara sungai Oyo. Dia berjalan ke hulu sungai, dan tiba di Hiyambanua. Di sana dia bertemu seorang wanita yang mirip adik kembarnya. Sang wanita itu juga melihat Silögu mirip abang kembarnya.

Dua insan itu akhirnya kawin. Setelah menjadi pasangan suami-istrii barulah Silögu dan wanita itu (yang ternyata adalah Siraso) mengetahui bahwa mereka saudara kembar. Apa boleh buat, Maha Sihai Si Sumber Bayu telah menjodohkan mereka.

Di bumi Nias Siraso dan Silögu tetap gemar mengunjungi para petani. Doa dan berkat mereka dibutuhkan untuk bibit dan untuk panen. Setelah mereka meninggal dunia, orang-orang membuat patung Siraso (Siraha Woriwu) dan patung Silögu (Siraha Wamasi) untuk memanggil arwah mereka pada waktu para petani turun menabur bibit dan panen. Siraso dikenal sebagai Dewi Bibit (Samaehowu Foriwu), Silögu dikenal sebagai Dewa Panen (Samaehowu Famasi).

Pada waktu mulai menabur bibit, masing-masing petani membawa bibit tanaman, diserahkan kepada ere (ulama agama suku) agar bibit tersebut diberkati oleh Dewi Bibit. Upacara pemberkatan ini mengorbankan babi. Ere memimpin doa pemujaan Siraha Woriwu. Syair hoho Memuja Dewi Bibit (Fanumbo Siraha Woriwu) diawali:


He le Siraso samo’ölö, he le Siraso samowua;

soga möi moriwu tanömö, möiga mangayaigö töwua;

mabe’zi sarasara likhe, matanö zi sambuasambua.

(Hai Siraso Sumber hasil, hai Siraso sumber buah.

Kami tiba, menyemai bibit, kami tiba menyemai tampang.

Kami semai tunggal berlidi, kami semai biji satuan.)

Setelah itu syair hoho berisi harapan agar bibit tanaman:

    diberi akar menembus bumi, diberi batang naik mengatas
    mayangnya dimatangkan oleh terik, buahnya dimatangkan oleh panas
    terlindung dari serangan: tikus, walang sangit, celeng, monyet, hama, pipit
    tidak diganggu arwah orang mati dan tidak dihanyutkan banjir

Selain harapan, syair hoho juga berisi janji (ikrar) yang harus ditepati:


Mabé wabaliwa mbalaki, mabé wabaliwa zemoa;

sumange woriwu tanömö, sumange woriwu töwua.

Andrö faehowu ya mo’ölö, andrö faehowu ya mowua.

(Akan kami bayar emas murni, dan kami membayar emas perada.

Persembahan bagi Dewi Bibit, persembahan bagi Dewi tampang.

Berkatilah agar ganda hasil, berkatilah agar berganda buah.)

Tidak dijelaskan bagaimana janji tersebut dilaksanakan, namun dalam pemujaan Dewa Panen disebutkan bahwa sebagian hasil panen harus dibagikan kepada: kaum miskin atau melarat, janda, anak yatim, dan anak yatim-piatu. Bila dilanggar akan membuat dewa marah dan merusak hasil pertanian.

Demikianlah cerita Dewi Bibit (dan Dewa Panen) dalam buku Ama Rozaman. Kisah Siraso dan Silögu ini pada zamannya merupakan mite. Para ahli menyebutnya mitos teogonis (mite terjadinya dewa-dewi), dianggap benar-benar terjadi, dianggap suci (sakral), dan diwariskan turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Nias tempo dulu.


Bacaan

    Danandjaja, J., Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Press, 1984.
    Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919.
    HĂ€mmerle, J.M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001.
    Harefa, F., Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939.
    Mendröfa, S.W., Fondrakö Ono Niha, Agama Purba – Hukum Adat – Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias, Inkultra Fondation Inc, 1981.
    Zebua, F., Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996.
    Zebua, V., Ho Jendela Nias Kuno – Sebuah Kajian Kritis Mitologis, Pustaka Pelajar, 2006.
    http://niasonline.net/2007/11/28/mite-siraso-dewi-bibit/comment-page-1/


Siraso sang Dewi Bibit Suku Nias  | Cerita Rakyat Indonesia.
Siraso sang Dewi Bibit Suku Nias | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 07.37


Doyan Nada | Cerita Rakyat Indonesia

Doyan Nada | Cerita Rakyat Indonesia



Alkisah, saat belum mempunyai nama, Pulau Lombok masih berupa perbukitan yang dipenuhi hutan belantara dan belum dihuni manusia. Pulau ini hanya dihuni oleh ratu jin yang bernama Dewi Anjani didampingi seorang patih bernama Patih Songan. Dewi Anjani mempunyai banyak prajurit dari bangsa jin dan seekor burung peliharaan yang bernama Beberi. Burung itu berparuh perak dan berkuku baja yang sangat tajam. Dewi Anjani beserta para pengikutnya tinggal di puncak Gunung Rinjani yang terdapat di pulau itu.

Suatu hari, sepulang dari berkeliling mengitari seluruh daratan Pulau Lombok, Patih Songan datang menghadap kepada Dewi Anjani.

 “Ampun, Tuan Putri! Izinkanlah hamba untuk menyampaikan sesuatu,” kata Patih Songan sambil memberi hormat.

“Kabar apa yang hendak kamu sampaikan, Patih? Katakanlah!” seru Dewi Anjani.

“Begini, Tuan Putri. Hamba baru saja selesai mengelilingi pulau ini. Hamba melihat pulau ini semakin penuh dengan pepohonan. Maka itu, Hamba menyarankan agar Tuan Putri segera memenuhi pesan kakek Tuan Putri untuk mengisi pulau ini dengan manusia,” ungkap Patih Sangon.

“Oh, iya, terima kasih Patih telah mengingatkanku mengenai amanat itu,”ucap Dewi Anjani,  “Baiklah kalau begitu, besok temani aku untuk mencari tempat yang cocok dijadikan lahan pertanian oleh manusia yang akan menghuni pulau ini!”

“Baik, Tuan Putri!” jawab Patih Sangon.

Keesokan hari, Dewi Anjani bersama Patih Songan dan Beberi menjelajahi seluruh wilayah daratan pulau tersebut. Setelah menemukan tempat yang cocok, Dewi Anjani segera memerintahkan Beberi untuk menebang pepohonan yang tumbuh sesak dan berdesak-desakan di sekitar tempat itu.

Beberi pun segera melaksanakan perintah tuannya. Dengan paruh dan kukunya yang tajam, ia mampu menyelesaikan tugas itu dengan mudah. Setelah itu, Dewi Anjani segera mengubah sepuluh pasang suami istri dari prajuritnya menjadi manusia dan salah seorang di antaranya dijadikan sebagai kepala suku. Kesepuluh pasangan suami istri tersebut kemudian menetap di daerah itu dan hidup sebagai petani.

Setelah beberapa lama menetap di sana, istri sang kepala suku melahirkan seorang bayi laki-laki yang ajaib. Begitu terlahir ke dunia, ia langsung dapat berjalan dan berbicara, serta dapat menyuapi dirinya sendiri. Selain itu, bayi ajaib itu sangat kuat makan. Sekali makan, ia dapat menghabiskan dua bakul nasi beserta lauknya. Maka sebab itulah, kedua orang tua dan orang-orang memanggilnya Doyan Nada. Dalam bahasa setempat, kata Doyan Nada merupakan julukan yang biasa diberikan kepada orang yang kuat makan.

Semakin besar Doyan Nada semakin kuat makan sehingga kedua orang tuanya tidak sanggup lagi memberinya makan. Oleh karena itu, sang ayah berniat untuk menyingkirkannya.

“Bu, anak kita harus segera disingkirkan dari rumah ini. Jika tidak, kita akan mati kelaparan,” kata kelapa suku.

“Tapi, Yah. Bukankah Doyan Nada anak kita satu-satunya?” “Iya, Ibu benar.

Tapi, hanya inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidup kita,” jawab sang kepala suku.

Sang istri tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah setelah mendengar penjelasan suaminya. Sementara itu, sang kepala suku segera menyusun rencana untuk menghabisi nyawa Doyan Nada. Pada esok harinya, ia mengajak anaknya ke hutan untuk menebang pohon besar. Tanpa merasa curiga sedikit pun, Doyan Nada menuruti saja ajakan sang ayah.

Setibanya di hutan, sang ayah memilih pohon yang paling besar dan segera menebangnya. Dengan sengaja ia mengarahkan pohon besar itu roboh ke tempat Doyan Nada berdiri. Begitu roboh, pohon besar itu menindih tubuh Doyan Nada hingga tewas seketika. Melihat anaknya tidak bernyawa lagi, sang ayah segera meninggalkan tempat itu.

Rupanya, Dewi Anjani menyaksikan semua peristiwa tersebut dari puncak Gunung Rinjani.

“Beberi, cepat percikkan banyu urip (air hidup) ke tubuh Doyan Nada!” seru Dewi Anjani kepada burung peliharaannya.

Mendengar perintah tuannya, Beberi segera terbang melesat menuju ke tempat Doyan Nada tertindih pohon besar dengan membawa banyu urip. Konon, banyu urip itu berkhasiat untuk menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Setelah banyu urip itu dipercikkan ke seluruh tubuhnya, Doyan Nada pun hidup kembali. Begitu sadar, ia langsung berteriak memanggil ayahnya.

“Ayah… Ayah… tolong aku! Pohon besar ini menindih tubuhku!”

Beberapa kali Doyan Nada berteriak, namun tidak ada jawaban. Akhirnya, ia mencoba untuk melepaskan tubuhnya dari tindihan kayu besar itu. Semula, ia mengira bahwa dirinya tidak akan mungkin mampu menggerakkannya. Namun tanpa diduga, ia dapat melakukannya dengan mudah. Ternyata, Dewi Anjani telah memberikan kekuatan yang luar biasa kepadanya.

Setelah terbebas, Doyan Nada kemudian membawa pulang kayu besar itu dan meletakkannya di depan rumah. “Ayah… Ibu… aku pulang!” teriaknya, “Kayu yang Ayah tebang tadi aku letakkan di sini.”

Mendengar teriakan itu, sang ayah segera berlari keluar rumah. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Doyan Nada masih hidup. Lebih terkejut lagi ketika ia mengetahui anaknya itu mampu mengangkat sebuah kayu besar.

“Ayah, kenapa Ayah meninggalkanku seorang diri di tengah hutan?” tanya Doyan Nada.

Sang ayah tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak untuk mencari-cari alasan agar niat jeleknya tidak diketahui oleh Doyan Nada. “Maafkan Ayah, Nak! Ayah tidak bermaksud meninggalkanmu. Tadi Ayah mengira kamu sudah meninggal. Ayah sudah berusaha untuk menolongmu, tapi Ayah tidak kuat mengangkat kayu besar yang menindihmu itu,” jawab sang ayah dengan penuh alasan.

Doyan Nada langsung percaya saja pada kata-kata ayahnya. Ia kemudian masuk ke dalam rumah untuk mencari makanan karena sudah kelaparan. Nasi dua bakul beserta lauk yang telah dihindangkan untuk makan siang mereka bertiga habis semua dilahapnya.  Sang ayah semakin kesal melihat perilaku Doyan Nada. Ia pun mencari cara lain untuk membinasakannya.

Keesokan hari, sang ayah mengajak anaknya untuk memancing ikan di sebuah lubuk yang besar dan dalam. Ketika Doyan Nada sedang asyik memancing, diam-diam sang ayah mendorong sebuah batu besar yang berada di belakang Doyan Nada. Batu besar itu menindih tubuh Doyan Nada hingga tewas seketika.  Dewi Anjani yang melihat peristiwa tersebut kembali menolongnya hingga ia dapat hidup kembali.

Ketika sadar, Doyan Nada tidak melihat lagi ayahnya sedang memancing di lubuk itu. Sejak itulah, ia mulai curiga kepada ayahnya yang sengaja untuk mencelakai dirinya. Dengan perasaan kesal, ia membawa pulang batu besar itu. Sesampai di halaman rumah, dibantinglah batu besar itu di hadapan ayahnya. Konon, sejak itu, kampung Doyan Nada kemudian dinamakan Sela Parang. Kata sela berarti batu, sedangkan kata parang berarti besar atau kasar.

Meskipun niat jeleknya telah diketahui Doyan Nada, sang ayah tetap saja berniat untuk menghabisi nyawa anaknya itu dengan berbagai cara. Sementara itu, sang ibu yang tidak tahan lagi melihat kelakuan suaminya menganjurkan anak semata wayangnya itu untuk pergi mengembara. Doyan Nada pun menuruti nasehat ibunya. Dengan bekal dendeng secukupnya, ia pergi mengembara dengan menyusuri hutan belantara tanpa arah dan tujuan.

Suatu hari, ketika melewati sebuah hutan lebat, Doyan Nada dikejutkan oleh suara orang berteriak meminta tolong. Ia pun segera menolongnya. Rupanya, orang itu adalah seorang pertapa yang terlilit oleh akar beringin. Pertapa yang bernama Tameng Muter itu kemudian bercerita kepada Doyan bahwa dirinya sudah sepuluh tahun bertapa karena ingin menjadi raja di pulau itu. Akhirnya, mereka pun menjadi sahabat dan pergi mengembara tanpa arah dan tujuan.

Dalam perjalanan mereka menemukan seorang pertapa yang dililit oleh akar beringin yang sangat besar. Pertapa yang bernama Sigar Penjalin itu sudah dua belas tahun bertapa karena ingin juga menjadi raja di Pulau Lombok. Akhirnya, ketiga orang tersebut bersahabat dan pergi mengembara bersamasama.

Pada suatu siang, mereka sedang beristirahat di bawah sebuah pohon rindang di tengah hutan. Ketika mereka sedang tertidur pulas, sesosok raksasa yang bernama Limandaru mendekati mereka. Raksasa itu hendak mencuri dendeng bekal Doyan Nada. Setelah mengambil dendeng itu, Limandaru segera melarikan diri. Namun, suara langkah kakinya yang keras membangunkan ketiga orang sahabat tersebut. Doyan Nada dan kedua sahabatnya segera mengejar raksasa itu hingga ke tempat persembunyiannya di sebuah gua di daerah Sekaroh.

Ketika Limandaru hendak masuk ke dalam gua, Doyan Nada segera mencegatnya.

“Berhenti, hai raksasa tengik!” seru Doyan Nada,  “Kembalikan dendeng yang kamu curi itu!”

“Hai, anak manusia! Menyingkirlah dari hadapanku, atau kamu akan kujadikan mangsaku!” ancam Limandaru.

“Aku tidak akan menyingkir sebelum kau serahkan dendeng itu kepadaku,” kata Doyan Nada.

Merasa ditantang, Limandaru menjadi marah dan langsung menyerang Doyan Nada. Tanpa diduga, ternyata anak kecil yang dihadapinya adalah seorang sakti mandraguna. Serangannya yang datang secara bertubi-tubi dapat dihindari oleh anak kecil itu dengan mudah. Karena kesal, Limandaru terus menyerang Doyan Nada dengan cara membabi buta. Namun begitu ia lengah, tiba-tiba sebuah tendangan keras dari Doyan Nada mendarat tepat di lambungnya. Tubuhnya yang besar itu pun terpelanting jauh dan terjatuh di tanah hingga tidak sadarkan diri.

Melihat Limandaru tidak bernyawa lagi, Doyan Nada bersama kedua sahabatnya masuk ke dalam gua. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati tiga orang putri cantik yang menjadi tawanan Limandaru. Ketiga putri tersebut adalah putri dari Madura, Majapahit, dan Mataram. Akhirnya, Doyan Nada menikahi putri dari Majapahit, Tameng Muter menikahi putri dari Mataram, dan Sigar Penjalin menikahi putri dari Madura.

Setelah itu, ketiga sahabat tersebut masing-masing mendirikan kerajaan di pulau tersebut. Doyan Nada mendirikan kerajaan di Selaparang tempat kelahirannya, Tameng Muter mendirikan kerajaan di Penjanggi, sedangkan Sigar Penjalin mendirikan kerajaan di Sembalun. Mereka mempimpin kerajaan masing-masing dengan arif dan bijaksana.

========



Sumber:http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/page/90

Doyan Nada | Cerita Rakyat Indonesia
Doyan Nada | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 19.17


Asal Mula Reog Ponorogo | Cerita Rakyat Indonesia

 Asal Mula Reog Ponorogo | Cerita Rakyat Indonesia


Dahulu kala ada seorang puteri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit. Ia puteri seorang raja yang terkenal di Kediri. Karena wajahnya yang cantik jelita dan sikapnya yang lemah lembut banyak para pangeran dan raja-raja yang ingin meminangnya untuk dijadikan sebagai istri.

Namun sayang Dewi Sanggalangit nampaknya belum berhasrat untuk berumah tangga. Sehingga membuat pusing kedua orang tuanya. Padahal kedua orang tuanya sudah sangat mendambakan hadirnya seorang cucu. “Anakku, sampai kapan kau akan menolak setiap pangeran yang datang melamarmu?” tanya Raja pada suatu hari.

“Ayahanda… sebenarnya hamba belum berhasrat untuk bersuami. Namun jika ayahanda sangat mengharapkan, baiklah. Namun hamba minta syarat, calon suami hamba harus bisa memenuhi keinginan hamba.”

“Lalu apa keinginanmu itu?”

“Hamba belum tahu…”

“Lho? Kok aneh…?” sahut Baginda.

“Hamba akan bersemedi minta petunjuk Dewa. Setelah itu hamba akan menghadap ayahanda untuk menyampaikan keinginan hamba.”

Demikianlah, tiga hari tiga malam Dewi Sanggalangit bersemedi. Pada hari keempat ia menghadap ayahandanya.

“Ayahanda, calon suami hamba harus mampu menghadirkan suatu tontonan yang menarik. Tontonan atau keramaian yang belum ada sebelumnya. Semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan. Dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak seratus empat puluh ekor. Nantinya akan dijadikan iringan pengantin. Terakhir harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua.”

“Wah berat sekali syaratmu itu!” sahut Baginda.

Meski berat syaratnya itu tetap diumumkan kepada segenap khalayak ramai. Siapa saja boleh mengikuti sayembara itu. Tidak peduli para pangeran, putera bangsawan atau rakyat jelata.

Para pelamar yang tadinya menggebu-gebu untuk memperistri Dewi Sanggalangit jadi ciut nyalinya. Banyak dari mereka yang mengundurkan diri karena merasa tak sanggup memenuhi permintaan sang Dewi.

Akhirnya tinggal dua orang yang menyatakan sanggup memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit. Mereka adalah Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelanaswandana dari Kerajaan Bandarangin.

Baginda Raja sangat terkejut mendengar kesanggupan kedua raja itu. Sebab Raja Singabarong adalah manusia yang aneh. Ia seorang manusia yang berkepala harimau. Wataknya buas dan kejam. Sedang Kelanaswandana adalah seorang raja yang berwajah tampan dan gagah, namun punya kebiasaan aneh, suka pada anak laki-laki. Anak laki-laki itu dianggapnya sebagai gadis-gadis cantik.

Namun semua sudah terlanjur, Dewi Sanggalangit tidak bisa menggagalkan persyaratan yang telah diumumkan.

Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya memerintah dengan bengis dan kejam. Semua kehendaknya harus dituruti. Siapa saja dari rakyatnya yang membangkang tentunya akan dibunuh. Raja Singabarong bertubuh tinggi besar. Dari bagian leher ke atas berwujud harimau yang mengerikan. Berbulu lebat dan penuh dengan kutu-kutu. Itulah sebabnya ia memelihara seekor burung merak yang rajin mematuki kutu-kutunya.

Ia sudah mempunyai selir yang jumlahnya banyak sekali. Namun belum mempunyai permaisuri. Menurutnya sampai detik ini belum ada wanita yang pantas menjadi permaisurinya, kecuali Dewi Sanggalangit dari Kediri. Karena itu ia sangat berharap dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh Dewi Sanggalangit.

Raja Singabarong telah memerintahkan kepada para abdinya untuk mencarikan kuda-kuda kembar. Mengerahkan para seniman dan seniwatinya menciptakan tontonan yang menarik, dan mendapatkan seekor binatang berkepala dua. Namun pekerjaan itu ternyata tidak mudah. Kuda kembar sudah dapat dikumpulkan, namun tontonan dengan kreasi baru belum tercipta, demikian pula binatang berkepala dua belum didapatkannya.

Maka pada suatu hari ia memanggil patihnya yang bernama Iderkala.

“Hai Patih coba kamu selidiki sampai bagaimana si Kelanaswandana mempersiapkan permintaan Dewi Sanggalangit. Kita jangan sampai kalah cepat oleh Kelanaswandana.”

Patih Iderkala dengan beberapa prajurit pilihan segera berangkat menuju kerajaan Bandarangin dengan menyamar sebagai seorang pedagang. Mereka menyelidiki berbagai upaya yang dilakukan oleh Raja Kelanaswandana. Setelah melakukan penyelidikan dengan seksama selama lima hari mereka kembali ke Lodaya.

“Ampun Baginda. Kiranya si Kelanaswandana hampir berhasil mewujudkan permintaan Dewi Sanggalangit. Hamba lihat lebih dari seratus ekor kuda kembar telah dikumpulkan. Mereka juga telah menyiapkan tontonan yang menarik, yang sangat menakjubkan.” Patih Iderkala melaporkan.

“Wah celaka! Kalau begitu sebentar lagi dia dapat merebut Dewi Sanggalangit sebagai istrinya.” kata Raja Singabarong. “Lalu bagaimana dengan binatang berkepala dua, apa juga sudah mereka siapkan?”

“Hanya binatang itulah yang belum mereka siapkan. Tapi nampaknya sebentar lagi mereka dapat menemukannya.” sambung Patih Iderkala.

Raja Singabarong menjadi gusar sekali. Ia bangkit berdiri dari kursinya dan berkata keras.

“Patih Iderkala! Mulai hari ini siapkan prajurit pilihan dengan senjata yang lengkap. Setiap saat mereka harus siap diperintah menyerbu ke Bandarangin.”

Demikianlah, Raja Singabarong bermaksud merebut hasil usaha keras Raja Kelanaswandana. Setelah mengadakan persiapan yang matang, Raja Singabarong memerintahkan prajurit mata-mata untuk menyelidiki perjalanan yang akan ditempuh Raja Kelanaswandana dari Wengker menuju Kediri. Rencananya Raja Singabarong akan menyerbu mereka di perjalanan dan merampas hasil usaha Raja Kelanaswandana untuk diserahkan sendiri kepada Dewi Sanggalangit.

Raja Kelanaswandana yang memerintah kerajaan Wengker berwajah tampan dan bertubuh gagah. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Namun ada wataknya yang tidak baik, ia suka mencumbui anak laki-laki. Ia menganggap anak laki-laki yang berwajah tampan dan bertubuh molek itu seperti gadis-gadis remaja. Hal ini sangat mencemaskan pejabat kerajaan dan para pendeta. Menimbulkan kesedihan bagi para rakyat yang harus kehilangan anak laki-lakinya sebagai pemuas nafsu Raja.

Patih Pujanggeleng dan pendeta istana sudah berusaha menasehati Raja agar meninggalkan kebiasaan buruknya itu namun saran mereka tiada gunanya. Raja tetap saja mengumpulkan puluhan anak laki-laki yang berwajah tampan.

Pada suatu hari Raja Kelanaswandana memanggil semua pejabat kerajaan dan para pendeta. Ia berkata bahwa ia akan menghentikan kebiasaannya jika dapat memperistri Dewi Sanggalangit dari Kediri. Sebab semalam ia mimpi bertemu dengan gadis cantik jelita itu dalam tidur. Menurut para Dewa gadis itulah yang akan menghentikan kebiasaan buruknya mencumbui anak laki-laki.

Seluruh pejabat dan pendeta menyetujui kehendak Raja yang ingin memperistri Dewi Sanggalangit. Maka ketika mereka mendengar persyaratan yang diajukan Dewi Sanggalagit, mereka tiada gentar, seluruh kawula kerajaan, baik para pejabat, seniman, rakyat biasa rela bekerja keras guna memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit.

Karena mendapat dukungan seluruh rakyatnya maka dalam tempo yang tidak begitu lama Raja Kelanaswandana dapat menyiapkan permintaan Dewi Sanggalangit. Hanya binatang berkepala dua yang belum didapatnya. Patih Pujanggeleng yang bekerja mati-matian mencarikan binatang itu akhirnya angkat tangan, menyatakan ketidaksanggupannya kepada Raja.

“Tidak mengapa!” kata Raja Kelanaswandana. ”Soal binatang berkepala dua itu aku sendiri yang akan mencarinya. Sekarang tingkatkan kewaspadaan, aku mencium gelagat kurang baik dari kerajaan tetangga.”

“Maksud Baginda?” tanya Patih Pujanggeleng penasaran.

“Coba kau menyamar jadi rakyat biasa, berbaurlah dengan penduduk di pasar dan keramaian lainnya.”

Perintah itu dijalankan, maka Patih Pujanggeleng mengerti maksud Raja. Ternyata ada penyusup dari kerajaan Lodaya. Mereka adalah para prajurit pilihan yang menyamar sebagai pedagang keliling. Patih Pujanggeleng yang juga mengadakan penyamaran serupa akhirnya dapat mengorek keterangan secara halus apa maksud prajurit Lodoya itu datang ke Bandarangin.

Prajurit Lodaya merasa girang setelah mendapatkan keterangan yang diperlukan. Ia bermaksud kembali ke Lodoya. Namun sebelum melewati perbatasan, anak buah Patih Pujanggeleng sudah mengepungnya, karena prajurit itu melawan maka terpaksa para prajurit Bandarangin membunuhnya.

Patih Pujanggeleng menghadap Raja Kelanaswandana.

“Apa yang kau dapatkan?” tanya Raja Kelanaswandana.

“Ada penyusup dari kerajaan Lodaya yang ingin mengorek keterangan tentang usaha Baginda memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit. Raja Singabarong hendak merampas usaha Baginda dalam perjalanan menuju Kediri.”

“Kurang ajar!“ sahut Raja Kelanaswandana. “Jadi Raja Singabarong akan menggunakan cara licik untuk memperoleh Dewi Sanggalangit. Kalau begitu kita hancurkan kerajaan Lodaya. Siapkan bala tentara kita.”

Sementara itu Raja Singabarong yang menunggu laporan dari prajurit mata-mata yang dikirim ke Bandarangin nampak gelisah. Ia segera memerintahkan Patih Iderkala menyusul ke perbatasan. Sementara dia sendiri segera pergi ke tamansari untuk menemui si burung merak, karena pada saat itu kepalanya terasa gatal sekali.

“Hai burung merak! Cepat patukilah kutu-kutu di kepalaku!” teriak Raja Singabarong dengan gemetaran menahan gatal.

Burung merak yang biasa melakukan tugasnya segera hinggap di bahu Raja Singabarong lalu mematuki kutu-kutu di kepala Raja Singabarong.

Patukan-patukan si burung merak terasa nikmat, asyik, bagaikan buaian sehingga Raja Singabarong terlena dan akhirnya tertidur. Ia sama sekali tak mengetahui keadaan di luar istana. Karena tak ada prajurit yang berani melapor kepadanya. Memang sudah diperintahkan kepada prajurit bahwa jika ia sedang berada di tamansari siapapun tidak boleh menemui dan mengganggunya, jika perintah itu dilanggar maka pelakunya akan dihukum mati.

Karena tertidur ia sama sekali tak mengetahui jika di luar istana pasukan Bandarangin sudah datang menyerbu dan mengalahkan prajurit Lodaya. Bahkan Patih Iderkala yang dikirim ke perbatasan telah binasa lebih dahulu karena berpapasan dengan pasukan Bandarangin.

Ketika peperangan itu sudah merembet ke dalam istana dekat tamansari barulah Raja Singabarong terbangun karena mendengan suara ribut-ribut. Sementara si burung mereka masih terus bertengger mematuki kutu-kutu dikepalanya, jika dilihat sepintas dari depan Raja Singabarong seperti binatang berkepala dua yaitu berkepala harimau dan burung merak.

“Hai mengapa kalian ribut-ribut?” teriak Raja Singabarong.

Tak ada jawaban, kecuali berkelebatnya bayangan seseorang yang tak lain adalah Raja Kelanaswandana. Raja Bandarangin itu tahu-tahu sudah berada di hadapan Raja Singabarong.

Raja Singabarong terkejut sekali. “Hai Raja Kelanaswandana mau apa kau datang kemari?”

“Jangan pura-pura bodoh!” sahut Raja Kelanaswandana. “Bukankah kau hendak merampas usahaku dalam memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit!”

“Hem, jadi kau sudah tahu!” sahut Raja Singabarong dengan penuh rasa malu.

“Ya, maka untuk itu aku datang menghukummu!” berkata demikian Raja Kelanaswandana mengeluarkan kesaktiannya. Diarahkan ke bagian kepala Raja Singabarong. Seketika kepala Singabarong berubah. Burung merak yang bertengger di bahunya tiba-tiba melekat jadi satu dengan kepalanya sehingga Raja Singabarong berkepala dua.

Raja Singabarong marah bukan kepalang, ia mencabut kerisnya dan meloncat menyerang Raja Kelanaswandana. Namun Raja Kelanaswandana segera mengayunkan cambuk saktinya bernama Samandiman. Cambuk itu dapat mengeluarkan hawa panas dan suaranya seperti halilintar.

“Jhedhaaar…!” begitu terkena cambuk Samandiman, tubuh Raja Singabarong terpental, menggelepar-gelepar di atas tanah. Seketika tubuhnya terasa lemah dan anehnya tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi binatang aneh, berkepala dua yaitu kepala harimau dan merak. Ia tidak dapat berbicara dan akalnya telah hilang. Raja Kelanaswandana segera memerintahkan prajurit Bandarangin untuk menangkap Singabarong dan membawanya ke negeri Bandarangin.

Beberapa hari kemudian Raja Kelanaswandana mengirim utusan yang memberitahukan Raja Kediri bahwa ia segera datang membawa persyaratan Dewi Sanggalangit. Raja Kediri langsung memanggil Dewi Sanggalangit.

“Anakku apa kau benar-benar bersedia menjadi istri Raja Kelanaswandana?”

“Ayahanda… apakah Raja Kelanaswandana sanggup memenuhi persyaratan hamba?”

“Tentu saja, dia akan datang dengan semua persyaratan yang kau ajukan. Masalahnya sekarang, tidakkah kau menyesal menjadi istri Raja Kelanaswandana?”

“Jika hal itu sudah jodoh hamba akan menerimanya. Siapa tahu kehadiran hamba disisinya akan merubah kebiasaan buruknya itu.” tutur Dewi Sanggalangit.

Demikianlah, pada hari yang ditentukan datanglah rombongan Raja Kelanaswandana dengan kesenian Reog sebagai pengiring. Raja Kelanaswandana datang dengan iringan seratus empat puluh empat ekor kuda kembar, dengan suara gamelan, gendang dan terompet aneh yang menimbulkan perpaduan suara aneh, merdu mendayu-dayu. Ditambah lagi dengan hadirnya seekor binatang berkepala dua yang menari-nari liar namun indah dan menarik hati. Semua orang yang menonton bersorak kegirangan, tanpa terasa mereka ikut menari-nari dan berjingkrak-jingkrak kegirangan mengikuti suara musik.

Demikianlah, pada akhirnya Dewi Sanggalangit menjadi permaisuri Raja Kelanaswandana dan diboyong ke Bandarangin di Wengker. Wengker adalah nama lain dari Ponorogo sehingga di kemudian hari kesenian Reog itu disebut Reog Ponorogo.

Sumber : http://idajulaikah.multiply.com/reviews/item/3



Asal Mula Reog Ponorogo | Cerita Rakyat Indonesia.

Asal Mula Reog Ponorogo | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 04.30


Asal Mula Nama Kota Cianjur | Cerita Rakyat Indonesia

 Asal Mula Nama Kota Cianjur | Cerita Rakyat Indonesia


Dahulu kala di tanah pasundan sekarang sekitar daerah Cianjur, hiduplah seorang lelaki yang sangat kaya raya. Saking kayanya seluruh ladang dan sawah di didaerahnya adalah milik lelaki tersebut. Tetapi sayang lelaki tersebut sangat kikir dan tidak suka menolong orang. Bahkan terhadap anak lelakinya.

Berbalik 90 derajat sifat bapak sama anaknya, anak lelaki kikir itu sangat berperangai baik dan senang menolong orang yang membutuhkan pertolongannya.

Di daerah pak kikir ini ada kebiasaan pesta syukuran panen. Syukuran ini bertujuan agar panen berikutnya akan lebih baik dari sekarang. Suatu hari pak kikir mengundang para tetangga untuk pesta syukuran panen. Dasar pak kikir undangan yang banyak ini hanya dijamu oleh makanan ala kadarnya bahkan tidak sedikit yang tidak kebagian.. padahal para undangan berharap akan mendapatkan jamuan yang memuaskan. Mereka hanya bisa mengelus dada.

Ketika acara sedang berlangsung datanglah seorang nenek tua renta yang bermaksud meminta sedekah kepada pak kikir.“Tuan, berilah saya sedekah dari harta tuan yang berlimpah ini”, kata sang nenek dengan terbata-bata. Bukannya memberi, Pak Kikir malah menghardik nenek tersebut dengan ucapan yang menyakitkan hati, bahkan mengusirnya.

Dengan sakit hati nenek tersebut pergi meninggalkan pesta Pak Kikir. Sementara itu, anak pak kikir memperhatikan dari jauh tak tega melihat kelakuan ayahnya, anak Pak Kikir mengambil makanan dan membungkusnya. Tanpa sepengetahuan bapaknya anak baik itu memberikan makanan kepada nenek tadi diperbatasan desa.

Sang nenek pun memakan makanan dengan lahapnya dan mendoakan agar anak pak kikir mendapatkan kemulian dalam hidupnya. Kemudian nenek itu pun melanjutkan perjalanannya.

Tiba diatas sebuah bukit dekat desa pak kikir nenek itu menyaksikan satu-satunya rumah yang paling besar dan megah adalah rumah Pak Kikir. Mengingat apa yang dialaminya sebelumnya, maka kemarahan sang nenek kembali muncul, sekali lagi dia mengucapkan doa agar Pak Kikir yang serakah dan kikir itu mendapat balasan yang setimpal. Kemudian dia menancapkan tongkat yang sejak tadi dibawanya, ke tanah tempat dia berdiri, kemudian dicabutnya lagi tongkat tersebut. Aneh bin ajaib, dari tempat ditancapkannya tongkat tersbut kemudian mencarlah air yang semakin lama semakin besar dan banyak, dan mengalir tepat ke arah desa Pak Kikir. Akhirnya desa pak kikir banjir. Semua warga berbondong-bondong menyelamatkan diri kecuali pak kikir yang sayang pada hartanya. Anak pak kikir pun tidak berhasil membujuk ayahnya untuk meniggalkan desa. Akhirnya pak kikir tenggelam bersama hartanya.

Atas jasa-jasanya, anak Pak Kikirpun diangkat menjadi pemimpin mereka yang baru. Anak Pak Kikir pun mengajarkan mereka menanam padi dan bagaimana caranya menggarap sawah.Warga selalu menuruti anjuran pemimpin mereka, sehingga daerah ini kemudian dinamakan Desa Anjuran.
Dengan berkembangnya jaman desa ini pun menjadi kota kecil kemudian dikenal sebagai Kota Cianjur.

 Asal Mula Nama Kota Cianjur | Cerita Rakyat Indonesia.
Asal Mula Nama Kota Cianjur | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 02.00


Puteri Junjung Buih | Cerita Rakyat Indonesia

 Puteri Junjung Buih | Cerita Rakyat Indonesia


 Tersebutlah kisah sebuah kerajaan bernama Amuntai di Kalimantan Selatan. Kerajaan itu diperintah oleh dua bersaudara. Raja yang lebih tua bernama Patmaraga, atau diberi julukan Raja Tua. Adiknya si Raja muda bernama Sukmaraga. Kedua raja tersebut belum mempunyai putera ataupun puteri.

Namun diantara keduanya, Sukmaraga yang berkeinginan besar untuk mempunyai putera. Setiap malam ia dan permaisurinya memohon kepada para dewa agar dikarunia sepasang putera kembar. Keinginan tersebut rupanya akan dikabulkan oleh para dewa. Ia mendapat petunjuk untuk pergi bertapa ke sebuah pulau di dekat kota Banjarmasin. Di dalam pertapaannya, ia mendapat wangsit agar meminta istrinya menyantap bunga Kastuba. Sukmaraga pun mengikuti perintah itu. Benar seperti petunjuk para dewa, beberapa bulan kemudian permaisurinya hamil. Ia melahirkan sepasang bayi kembar yang sangat elok wajahnya.

Mendengar hal tersebut, timbul keinginan Raja Tua untuk mempunyai putera pula. Kemudian ia pun memohon kepada para dewa agar dikarunia putera. Raja Tua bermimpi disuruh dewa bertapa di Candi Agung, yang terletak di luar kota Amuntai. Raja Tua pun mengikuti petunjuk itu. Ketika selesai menjalankan pertapaan, dalam perjalanan pulang ia menemukan sorang bayi perempuan sedang terapung-apung di sebuah sungai. Bayi tersebut terapung-apung diatas segumpalan buih. Oleh karena itu, bayi yang sangat elok itu kelak bergelar Puteri Junjung Buih.

Raja Tua lalu memerintahkan pengetua istana, Datuk Pujung, untuk mengambil bayi tersebut. Namun alangkah terkejutnya rombongan kerajaan tersebut, karena bayi itu sudah dapat berbicara. Sebelum diangkat dari buih-buih itu, bayi tersebut meminta untuk ditenunkan selembar kain dan sehelai selimut yang harus diselesaikan dalam waktu setengah hari. Ia juga meminta untuk dijemput dengan empat puluh orang wanita cantik.

Raja Tuapun lalu menyayembarakan permintaan bayi tersebut. Ia berjanji untuk mengangkat orang yang dapat memenuhi permintaan bayi tersebut menjadi pengasuh dari puteri ini. Sayembara itu akhirnya dimenangkan oleh seorang wanita bernama Ratu Kuripan. Selain pandai menenun, iapun memiliki kekuatan gaib. Bukan hanya ia dapat memenuhi persyaratan waktu yang singkat itu, Ratu Kuripan pun menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat mengagumkan. Kain dan selimut yang ditenunnnya sangatlah indah. Seperti yang dijanjikan, kemudian Raja Tua mengangkat Ratu Kuripan menjadi pengasuh si puteri Junjung Buih. Ia ikut berperanan besar dalam hampir setiap keputusan penting menyangkut sang puteri.

(Diambil dan disarikan dari Abdul Hakim, Selusin Cerita Rakyat, Jakarta:C.V. Danau Singkarak, 1980, hal. 71-81)


 

Puteri Junjung Buih | Cerita Rakyat Indonesia.


Puteri Junjung Buih | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 07.18


Asal Mula Danau Limboto | Cerita Rakyat Indonesia

 Asal Mula Danau Limboto | Cerita Rakyat Indonesia


Dahulu kala daerah Limboto merupakan hamparan laut yang luas. Di tengahnya terdapat dua buah gunung yang tinggi, yaitu Gunung Boliohuto dan Gunung Tilongkabila. Kedua gunung tersebut merupakan petunjuk arah bagi masyarakat yang akan memasuki Gorontalo melalui jalur laut. Gunung Bilohuto menunjukkan arah barat, sedangkan Gunung Tilongkabila menunjukkan arah timur.

Pada suatu ketika, air laut surut, sehingga kawasan itu berubah menjadi daratan. Tak beberapa lama kemudian, kawasan itu berubah menjadi hamparan hutan yang sangat luas. Di beberapa tempat masih terlihat adanya air laut tergenang, dan di beberapa tempat yang lain muncul sejumlah mata air tawar, yang kemudian membentuk genangan air tawar. Salah satu di antara mata air tersebut mengeluarkan air yang sangat jernih dan sejuk. Mata air yang berada di tengah-tengah hutan dan jarang dijamah oleh manusia tersebut bernama Mata Air Tupalo. Tempat ini sering didatangi oleh tujuh bidadari bersaudara dari Kahyangan untuk mandi dan bermain sembur-semburan air.

Pada suatu hari, ketika ketujuh bidadari tersebut sedang asyik mandi dan bersendau gurau di sekitar mata air Tupalo tersebut, seorang pemuda tampan bernama Jilumoto melintas di tempat itu. Jilumoto dalam bahasa setempat berarti seorang penduduk kahyangan berkunjung ke bumi dengan menjelma menjadi manusia. Melihat ketujuh bidadari tersebut, Jilumoto segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Dari balik pohon itu, ia memerhatikan ketujuh bidadari yang sedang asyik mandi sampai matanya tidak berkedip sedikitpun.

“Aduhai.... cantiknya bidadari-bidadari itu!” gumam Jilumoto dengan takjub.

Melihat kecantikan para bidadari tersebut, Jilumoto tiba-tiba timbul niatnya untuk mengambil salah satu sayap mereka yang diletakkan di atas batu besar, sehingga si pemilik sayap itu tidak dapat terbang kembali ke kahyangan. Dengan begitu, maka ia dapat memperistrinya. Ketika para bidadari tersebut sedang asyik bersendau gurau, perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tempat sayap-sayap tersebut diletakkan. Setelah berhasil mengambil salah satu sayap bidadari tersebut, pemuda tampan itu kembali bersembunyi di balik pohon besar.

Ketika hari menjelang sore, ketujuh bidadari tersebut selesai mandi dan bersiap-siap untuk pulang ke Kahyangan. Setelah memakai kembali sayap masing-masing, mereka pun bersiap-siap terbang ke angkasa. Namun, salah seorang di antara mereka masih tampak kebingungan mencari sayapnya.

“Hai, Adik-adikku! Apakah kalian melihat sayap Kakak?”.

Rupanya, bidadari yang kehilangan sayap itu adalah bidadari tertua yang bernama Mbu`i Bungale. Keenam adiknya segera membantu sang Kakak untuk mencari sayap yang hilang tersebut. Mereka telah mencari ke sana kemari, namun sayap tersebut belum juga ditemukan. Karena hari mulai gelap, keenam bidadari itu pergi meninggalkan sang Kakak seorang diri di dekat Mata Air Tupalo.

“Kakak.. jaga diri Kakak baik-baik!” seru bidadari yang bungsu.

“Adikku...! Jangan tinggalkan Kakak!” teriak Mbu`i Bungale ketika melihat keenam adiknya sedang terbang menuju ke angkasa.

Keenam adiknya tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Tinggallah Mbu`i Bungale seorang diri di tengah hutan. Hatinya sangat sedih, karena ia tidak bisa bertemu lagi dengan keluarganya di Kahyangan. Beberapa saat kemudian, Jilumoto keluar dari tempat persembunyiannya dan segera menghampiri Mbu`i Bungale.

“Hai, Bidadari cantik! Kenapa kamu bersedih begitu?” tanya Jilumoto dengan berpura-pura tidak mengetahui keadaan sebenarnya.

“Sayapku hilang, Bang! Adik tidak bisa lagi kembali ke Kahyangan,” jawab Mbu`i Bungale.

Mendengar jawaban itu, tanpa berpikir panjang Jilumoto segera mengajak Mbu`i Bungale untuk menikah. Bidadari yang malang itu pun bersedia menikah dengan Jilumoto. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di bumi. Mereka pun mencari tanah untuk bercocok tanam. Setelah berapa lama mencari, akhirnya sepasang suami-istri itu menemukan sebuah bukit yang terletak tidak jauh dari Mata Air Tupalo. Di atas bukit itulah mereka mendirikan sebuah rumah sederhana dan berladang dengan menanam berbagai macam jenis tanaman yang dapat dimakan. Mereka menamai bukit itu Huntu lo Ti`opo atau Bukit Kapas..

Pada suatu hari, Mbu`i Bungali mendapat kiriman Bimelula, yaitu sebuah mustika sebesar telur itik dari Kahyangan. Bimelula itu ia simpan di dekat mata air Tupalo dan menutupinya dengan sehelai tolu atau tudung. Beberapa hari kemudian, ada empat pelancong dari daerah timur yang melintas dan melihat mati air Tupalo tersebut. Begitu melihat air yang jernih dan dingin itu, mereka segera meminumnya karena kehausan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Usai minum, salah seorang di antara mereka melihat ada tudung tergeletak di dekat mata air Tupalo.

“Hai, kawan-kawan! Lihatlah benda itu! Bukankah itu tudung?” seru salah seorang dari pelancong itu.

“Benar, kawan! Itu adalah tudung,” kata seorang pelancong lainnya.

“Aneh, kenapa ada tudung di tengah hutan yang sepi ini?” sahut pelancong yang lainnya dengan heran.

Oleh Karena penasaran, mereka segera mendekati tudung itu dan bermaksud untuk menangkatnya. Namun, begitu mereka ingin menyentuh tudung itu, tiba-tiba badai dan angin topan sangat dahsyat datang menerjang, kemudian disusul dengan hujan yang sangat deras. Keempat pelancong itu pun berlarian mencari perlindungan agar terhindar dari marabahaya. Untungnya, badai dan angin topan tersebut tidak berlangsung lama, sehingga mereka dapat selamat.

Setelah badai dan hujan berhenti, keempat pelancong itu kembali ke mata air Tupalo. Mereka melihat tudung itu masih terletak pada tempatnya semula. Oleh karena masih penasaran ingin mengetahui benda yang ditutupi tudung itu, mereka pun bermaksud ingin mengangkat tudung itu. Sebelum mengangkatnya, mereka meludahi bagian atas tudung itu dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar badai dan topan tidak kembali terjadi. Betapa terkejutnya mereka ketika mengangkat tudung itu. Mereka melihat sebuah benda bulat, yang tak lain adalah mustika Bimelula. Mereka pun tertarik dan berkeinginan untuk memiliki mustika itu. Namun begitu mereka akang mengambil mustika Bimelula itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale datang bersama suaminya, Jilumoto.

“Maaf, Tuan-Tuan! Tolong jangan sentuh mustika itu! Izinkanlah kami untuk mengambilnya, karena benda itu milik kami!” pinta Mbu`i Bungale.

“Hei, siapa kalian berdua ini? Berani sekali mengaku sebagai pemilik mustika ini!” seru seorang pemimpin pelancong.

“Saya Mbu`i Bungale datang bersama suamiku, Jilumoto, ingin mengambil mustika itu,” jawab Mbu`i Bungale dengan tenang.

“Hai, Mbu`i Bungale! Tempat ini adalah milik kami. Jadi, tak seorang pun yang boleh mengambil barang-barang yang ada di sini, termasuk mustika ini!” bentak pemimpin pelancong itu.

“Apa buktinya bahwa tempat ini dan mustika itu milik kalian?” tanya Mbui`i Bungale.

Pemimpin pelancong itu pun menjawab:

“Kalian mau lihat buktinya? Lihatlah sepah pinang di atas tudung itu! Kamilah yang telah memberinya,” ujar pemimpin pelancong.

Mendengar pengakuan para pelancong tersebut, Mbu`i Bungale hanya tersenyum.

“Hai, aku ingatkan kalian semua! Kawasan mata air ini diturunkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa kepada orang-orang yang suka berbudi baik antarsesama makhluk di dunia ini. Bukan diberikan kepada orang-orang tamak dan rakus seperti kalian. Tapi, jika memang benar kalian pemilik dan penguasa di tempat ini, perluaslah mata air ini! Keluarkanlah seluruh kemampuan kalian, aku siap untuk menantang kalian!” seru Mbu`i Bungale.

Keempat pelancong itu pun bersedia menerima tantangan Mbu`i Bungale. Si pemimpin pelancong segera membaca mantradan mengeluarkan seluruh kemampuannya.

“Wei mata air Kami! Meluas dan membesarlah,” demikian bunyi mantranya.

Berkali-kali pemimpin pelancong itu membaca mantranya, namun tak sedikit pun menunjukkan adanya tanda-tanda mata air itu akan meluas dan membesar. Melihat pemimpin mereka sudah mulai kehabisan tenaga, tiga anak buah pelancong tersebut segera membantu. Meski mereka telah menyatukan kekuatan dan kesaktian, namun mata air Tupalo tidak berubah sedikit pun. Lama-kelamaan keempat pelancong pun tersebut kehabisan tenaga. Melihat mereka kelelahan dan bercucuran keringat, Mbu`i Bungale kembali tersenyum.

“Hai, kenapa kalian berhenti! Tunjukkanlah kepada kami bahwa mata air itu milik kalian! Atau jangan-jangan kalian sudah menyerah!” seru Mbu`i Bungale.

“Diam kau, hai perempuan cerewet! Jangan hanya pandai bicara!” sergah pemimpin pelancong itu balik menantang Mbu`i Bungale. “Jika kamu pemilik mata air ini, buktikan pula kepada kami!”

“Baiklah, Tuan-Tuan! Ketahuilah bahwa Tuhan Maha Tahu mana hambanya yang benar, permintaannya akan dikabulkan!” ujar jawab Mbu`i Bungale dengan penuh keyakinan.

Usai berkata begitu, Mbu`i Bungale segera duduk bersila di samping suaminya seraya bersedekap. Mulutnya pun komat-kamit membaca doa.

“Woyi, air kehidupan, mata air sakti, mata air yang memiliki berkah. Melebar dan meluaslah wahai mata air para bidadari.... membesarlah....!!!” demikian doa Mbu`i Bungale.

Usai berdoa, Mbu`i Bungale segera mengajak suaminya dan memerintahkan keempat pelancong tersebut untuk naik ke atas pohon yang paling tinggi, karena sebentar lagi kawasan itu akan tenggelam. Doa Mbu`i Bungale pun dikabulkan. Beberapa saat kemudian, perut bumi tiba-tiba bergemuruh, tanah bergetar dan menggelegar. Perlahan-lahan mata air Tupalo melebar dan meluas, kemudian menyemburkan air yang sangat deras. Dalam waktu sekejap, tempat itu tergenang air. Keempat pelancong tersebut takjub melihat keajaiban itu dari atas pohon kapuk.

Semakin lama, genangan air itu semakin tinggi hingga hampir mencapai tempat keempat pelancong yang berada di atas pohon kapuk itu. Mereka pun berteriak-teriak ketakutan.

“Ampun Mbu`i Bungale! Kami mengaku salah. Engkaulah pemilik tempat ini dan seisinya!” teriak pemimpin pelancong itu.

Mbu`i Bungale adalah bidadari yang pemaaf. Dengan segera ia memohon kepada Tuhan agar semburan mata air Tupalo dikembalikan seperti semula, sehingga genangan air itu tidak semakin tinggi dan menenggelamkan keempat pelancong tersebut. Tak berapa lama kemudian, semburan air pada mata air Tupalo kembali seperti semula. Mereka pun turun dari pohon. Mbu`i Bungale segera mengambil tudung dan mustika Bimelula. Ajaibnya, ketika ia meletakkan di atas tangannya, mustika yang menyerupai telur itik itu tiba-tiba menetas dan keluarlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Wajahnya bercahaya bagaikan cahaya bulan. Mbu`i Bungale pun memberinya nama Tolango Hula, diambil dari kata Tilango lo Hulalo yang berarti cahaya bulan. Menurut cerita, Tolango Hula itulah yang kelak menjadi Raja Limboto.

Setelah itu, Mbu`i Bungale dan suaminya segera membawa gadis kecil itu dan mengajak keempat pelancong tersebut ke rumah mereka. Ketika hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale melihat lima buah benda terapung-apung di tengah danau.

“Hai, benda apa itu?” seru Mbu`i Bungale dengan heran sambil menunjuk ke arah benda tersebut.

Karena penasaran, Mbu`i Bungale segera mengambil kelima benda tersebut.

“Bukankah ini buah jeruk?” pikirnya saat  mengamati buah tersebut.

Setelah mencubit dan mencium buah tersebut, lalu mengamatinya, maka yakinlah Mbu`i Bungale bahwa buah jeruk itu sama seperti yang ada di Kahyangan. Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia bermaksud untuk memeriksa pepohonan yang tumbuh di sekitar danau.

“Kanda, tolong gendong Tolango Hula! Dinda ingin memeriksa pepohonan di sekitar danau ini. Jangan-jangan di antara pepohonan itu ada pohon jeruk yang tumbuh,” ujar Mbu`i Bungale seraya menyerahkan bayinya kepada sang Suami, Jilumoto.

Setelah beberapa saat mencari dan memeriksa, akhirnya Mbu`i Bungale menemukan beberapa pohon jeruk yang sedang berbuah lebat. Untuk memastikan bahwa pohon yang ditemukan itu benar-benar pohon jeruk dari Kahyangan, ia segera memanggil suaminya untuk mengamatinya.

“Kanda, kemarilah sebentar!” seru Mbu`i Bungale.

“Coba perhatikan pohon dan buah jeruk ini! Bukankah buah ini seperti jeruk Kahyangan, Kanda?” ujarnya.

Suaminya pun segera mendekati pohon jeruk itu sambil menggendong bayi mereka. Setelah memegang dan mengamatinya, ia pun yakin bahwa pohon dan buah jeruk itu berasal dari Kahyangan.

“Kamu benar, Dinda! Pohon jeruk ini seperti yang ada di Kahyangan,” kata Jilumoto.

 “Dinda heran! Kenapa ada pohon jeruk Kahyangan tumbuh di sekitar danau ini?” ucap Mbu`i Bungale dengan heran.

Beberapa saat kemudian, Mbu`i Bungale baru menyadari bahwa keberadaan pohon jeruk di sekitar danau itu merupakan anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Untuk mengenang peristiwa yang baru saja terjadi di daerah itu, Mbu`i Bungale dan suaminya menamakan danau itu Bulalo lo limu o tutu, yang artinya danau dari jeruk yang berasal dari Kahyangan. Lama-kelamaan, masyarakat setempat menyebutnya dengan Bulalo lo Limutu atau lebih dikenal dengan sebutan Danau Limboto.

(Samsuni/sas/166/09-09)

    http://hulondhalo.com/, diakses pada tanggal 28 September 2009.
    www.gorontalofamily.org, diakses pada tanggal 28 September 2009.
    Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.


  Asal Mula Danau Limboto | Cerita Rakyat Indonesia.

Asal Mula Danau Limboto | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 15.49


Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak | Cerita Rakyat Indonesia

 Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak | Cerita Rakyat Indonesia


Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.

Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.

Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.

Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.

“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.

“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.

“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,` sahut sang Ibu.

“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.

Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.

Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.

Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:

“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.

“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.

Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.

Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).

“Sedang apa, Bu?” tanya Pak Buyung kepada istrinya.

“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.

“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.

“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasak pangek[1],” jelas istrinya.

“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.

Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.

“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.

“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.

“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.

“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.

`Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.

“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.

“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.

“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.

“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.

“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.

Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantap pangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.

“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.

“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.

“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.

“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.

“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.

“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.

“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.

“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.

Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.

“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.

Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makan pangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.

“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.

“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.

“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.

“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.

“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.

Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.

Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.

Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.

“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.

Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.

Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Sumber:

Ivan Adilla. Cerita Rakyat dari Solok (Sumatra Barat). Jakarta: Grasindo. 2005.

Lukisan danau singkarak : SINGKARAK ; ERNST HAECKEL — One of the prints from Ernst Haeckel’s 1905 Wanderbilder (Travel Pictures),

http://empimuslion.wordpress.com/2008/04/09/382/


 Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak | Cerita Rakyat Indonesia.

Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 00.25


Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu | Cerita Rakyat Indonesia

 Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu  | Cerita Rakyat Indonesia


Pada zaman dahulu kala di kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yakni Petinggi Hulu Dusun dan istrinya yang bernama Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut dan mereka belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.

Suatu hari, keadaan alam menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.

Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.

Ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia ketika melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi. Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.

Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan ternyata ia adalah seekor naga.

Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut.

“Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda.” kata sang putri, “Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Dan buatkanlah sebuah tangga agar dapat meluncur ke bawah.”

Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam.

“Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai.”

Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.

Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Kemudian seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.

Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong. Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu.

Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Demikianlah mitologi Kutai mengenai asal mula Naga Erau yang menghantarkan Putri Junjung Buih atau Putri Karang Melenu, ibu suri dari raja-raja Kutai Kartanegara.

Sumber :

http://mtsox.wordpress.com/2008/11/25/legenda-naga-erau-dan-putri-karang-melenu/



 Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu  | Cerita Rakyat Indonesia.

Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 08.07


Asal Mula Burung Cendrawasih | Cerita Rakyat Indonesia

Asal Mula Burung Cendrawasih  | Cerita Rakyat Indonesia

Di daerah Fak-fak tepatnya, pegunungan Bumberi hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing itu mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.

Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah. Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina itu merasa segar dan kenyang.

Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh di perutnya. Perut anjing itu mulai membesar. Perempuan tua itu memastikan bahwa, ternyata sahabatnya (anjing betina) itu hamil. Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si perempuan tua itu segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya. Perempuan tua itu melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki diberi nama: Kweiya.

Setelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, dia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu). Karenannya, Kweiya hanya dapat menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit. Setiap kali, hutan lebat itu dihiasi dengan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan mengadakan kepulan asap itu.

Konon ada seorang pria tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Dia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Karena perasaan ingin tahu mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat. Pria itu berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki, akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.

Setibannya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam: “weing weinggiha pohi” (artinya selamat siang) sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohonpun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristerahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan begitu cepat.

Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat melihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar. Dan karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.

Dalam perjalanan menuju rumah Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan, “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Sewaktu ada dalam rumah Kweiya berbuat seolah-olah haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk di makannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusaan tebu tadi, terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Serta-merta ibunya menjerit ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Harapan agar ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka. Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima baik pikiran anaknya itu dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.

Setelah beberapa waktu lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam perkembangan selanjutnya dari hari ke hari hubungan persaudaraan antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri dari Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.

Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya bersepakat mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya sehingga luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri di salah satu sudut rumah sambil meminta tali dari kulit pohon “Pogak nggein” (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang ditanyakan di mana Kweiya tetapi kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya berada. Lalu adik bungsu mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar cerita itu si ibu tua merasa ibah terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi: “Eek..ek, ek, ek, ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu meloncat-loncak di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.

Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu-sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang pintalan itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengger di atas pohon sambil berkicau dengan suara: wong, wong, wong, wong, ko,ko, ko, wo-wik!!

Dan sejak saat itulah burung cenderawasih muncul di permukaan bumi di mana terdapat perbedaan antara burung cenderawsih jantan dan betina. Burung cenderawasih yang buluhnya panjang di sebut siangga sedangkan burung cenderawasih betina disebut: hanggam tombor yang berarti perempuan atau betina. Keduanya dalam bahasa Iha di daerah Onin, Fak-fak.

Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu meresa menyesal lalu saling menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik di bandingkan cenderawasih.

Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna buluh, namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir buluh yang indah itu justru mendatangkan mala petaka bagi mereka. Dia berpikir suatu ketika orang akan memburuh mereka termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa kerena mereka tidak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah buluh. Kini Ayahnya kesepian dan sedih, ia melipat kedua kaki lalu, menjemburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut “Katdundur”.

Asal Mula Burung Cendrawasih  | Cerita Rakyat Indonesia.
Asal Mula Burung Cendrawasih | Cerita Rakyat Indonesia
--Posted by - Cerita Rakyat Indonesia -
- Cerita Rakyat Indonesia - Updated at: 19.14